[ONESHOOT] It’s War (Drabble)

Tittle : It’s War (Drabble)

Author : Key

Rating :

Genre : Frienship, Romance, and Action.

Cast :

– Joon

– Thunder

– Wulan Nurul Izzati Ramli

——————————————————

Target : Wulan Nurul Izzati Ramli

Rumah : Kimchi Avenue No. 29 Block. 6A

Kantor : First Road No. 99

Joon mengantongi surat tersebut dan tersenyum dingin. Dia segera menyiapkan Remington 700 miliknya dan berangkat ke First Road No. 99. Baru saja ia mendapat tempat yg pas untuk menembak, wanita target itu keluar dri gedung pencakar langit itu tanpa perlindungan sama sekali.

“I got a very easy target…” Kata Joon meremehkan.

Baru saja mengunci target, Joon melihat seorang pengganggu. Seorang dengan jas hitam, mengendarai sedan hitam. Joon mengenali sedikit orang itu. Kalo tdk salah itu adalah seorang pembunuh bayaran bernama GO. Joon menggeram krn marah. GO akan menghancurkan misinya.

Joon berlari kebawah dan menghampiri targetnya. Dengan kasar Joon menarik tangan yeoja itu dan berlari. Mereka berlari agak jauh. GO mengejar. Pistol ditangan GO sudah siap untuk menembak. Joon berlari lebih kencang hingga mereka bersembunyi dibawah jembatan. Yeoja itu menggenggam tangan Joon.

DEGH! Joon merasakan sesuatu yg aneh dihatinya. Rasa ingin menyelasaikan misi berubah menjadi rasa… yg Joon sendiri susah menjelaskannya. Joon menatap wajah yeoja itu. Tiba-tiba GO mengetahui tempat persembunyian mereka.

Joon menarik yeoja itu agar lari bersamanya. GO melepaskan tembakan. Tembakan itu mengenai bahu yeoja itu, Wulan.

“Akhh! Appo…” Jerit Wulan.

“Sial! Tunggu disini!” Kata Joon sambil balik mengejar GO yg sudah menghilang entah kemana.

Joon akhirnya menemukan GO. Dengan keras Joon menonjok GO. GO memberi perlawanan. Tapi ternyata Joon lebih kuat. Joon menendang perut GO dan membuatnya tersungkur. Joon merebut pistol milik GO. Diliriknya GO, musuh terbesarnya, sedang tergeletak menahan sakit dan……

DORRR!

Pistol itu memuntahkan sebutir peluru yg langsung bersarang didada kiri GO. Dengan segera Joon membuang pistol itu dan berlari ketempat ia meninggalkan Wulan. Wulan sedang duduk sambil meremas bahunya, berusaha menghentikan pendarahan.

“Ikut aku…” Kata Joon sambil membopong Wulan. Joon membawanya kempat penimbunan rongsokan.

“Hei, kemana kita?” Tanya Wulan.

“Kerumahku” Jawab Joon dingin.

“Siapa namamu?” Tanya Wulan.

“Lee Joon” Jawab Joon. Masih dengan sikap seperti es.

Joon membawa Wulan kesebuah mobil van yg berada ditengah-tengah timbunan rongsok itu…

=====THUNDER POV=====

Baru saja aku mau memakan mie ramenku yg lezat ini. Tiba-tiba saja Joon Hyung datang sambil membawa yeoja yg bahunya terluka. Aduh, pasti misi2 bahaya kayak gini lg. Kapan sih dia mau tobat??

“Hyung, siapa dia?” Tanyaku.

“Wulan Nurul Izzati Ramli, anak dari Presiden Bank Dunia, harusnya jadi targetku. Puas? Sekarang bantu aku dulu.

Tidurkan dia disana” Perintah Hyungku dengan nada yg sangat tidak ramah.

“Ne, Hyung…” Kataku nurut.

Joon sibuk mencari kotak obat sedangkan aku membaringkan Wulan dikasur kecil milikku. Dasar Joon stress, target bukannya dibunuh malah dibawa pulang…

“Minggir. Sana, habiskan miemu diluar…” Perintahnya lagi. Dingin bgt nie orang…

Aku pun keluar membawa mieku dan kopiku. Huft~ diluar dingin bgt…

Dasar Hyung nggak punya hati. Dingin dan terkesan kejam. Tpi sebenarnya di lembut dan sangat perhatian. Hahaha~ aku tertawa sendiri mengingat suatu kejadian bertahun-tahun lalu. Saat umma dan appa masih ada. Saat umurku baru 6 tahun dan Joon Hyung 8 thn…

~FLASH BACK~

“Hyung, aku mau buah apel itu…” Kataku sambil menunjuk buah apel yg tergantung dipohonnya.

“Ambil saja sendiri…” Balas Joong dengan dingin dan kembali serius dengan pisau lipat barunya.

“Pohonnya terlalu tinggi…” Kataku memelas.

“Kau yg menginginkan, kau yg berusaha…” Balasnya dingin. Dasar gunung es!

Dengan kesal, aku berusaha memanjat pohon itu. Dia mengawasiku tanpa berpaling dari pekerjaannya. Yak! Bentar lagi sampaii… oh tidak, aku terpeleset dari dahan yg kupijak! Aishh… aku memang tdk pandai dalam hal-hal maskulin seperti ini…

Tubuh kecilku jatuh dari ketinggian 1,5 meter. Ini akan sangat sakit. Aku mulai menitikkan air mata. Loh? Kok nggak begitu sakit? Aku membuka mataku. Aku ada didalam gendongan Hyung-ku tersayang.

“Lemah, masa gitu aja nggak bisa!” Katanya dingin smbil menghempaskan aku ketanah.

“Auw… Appo…” Isakku. Joon Hyung langsung berjongkok dan mengacak rambutku.

“Hei, jadi cowok itu kuat dikit…” Katanya sambil tersenyum manis.

Untuk pertama kalinya selama 6 tahun aku melihatnya tersenyum manis seperti itu. Aku hanya mengangguk mendengar nasehatnya. Tiba-tiba dia memanjat pohon dengan kecepatan kilat dan turun lg. Dia memberikan apel itu kepadaku. Untuk sekali lg dia tersenyum manis kepadaku.

~FLASHBACK END~

Dan sampai sekarang aku belum pernah melihatnya tersenyum lagi…

Terdengat jeritan tertahan dari Wulan. Hyung pasti sedang mengeluarkan peluru itu.

=====JOON POV=====

“AKHH! Appo…” Jerit Wulan.

“Sttt, tenang…” Kataku. Wulan mengangguk.

Sekali lagi kucoba mengeluarkan peluru itu. Dan..

“YAAA! Appo…” Jerit Wulan makin keras.

Tapi aku berhasil. Peluru itu keluar dgn utuh. Syukurlah. Kalo tdk aku membutuhkan operasi untuk

mengeluarkannya. Wulan masih menangis kesakitan. Tanpa sadar kucium keningnya. Dia mulai agak tenang. Dan akhirnya membuka mata.

“Gamsahamnida…” Katanya sambil tersenyum. Cantik.

“Cheonmaneyo…” Balasku tanpa senyuman.

“Saranghae…” Bisiknya smbil kembali terpejam menahan sakit.

Aku tak menjawab. Hanya kulap keringat dikeningnya dengan menggunakan handuk kecil yg terlebih dahulu kurendam air hangat. Lelah, aku tertidur disofa sempit diseberang kasur itu.

-NEXT MORNING-

Aku terbangun dan mengecek keadaan Wulan. Hei, dia menangis dalam tidurnya! Aku menyiapkan air hangat dan handuk kecil untuk mengompres lukanya. Sakit memang, apalagi kalau tanpa obat bius seperti ini. Untungnya aku cukup sering mengobati diri sendiri sehingga aku bisa mengobatinya.

Hmm, aku butuh kehidupan yg lebih baik daripada ini. Bagaimana caranya? Akan kupikirkan nanti. Sekarang aku ingin merakit pistol buatanku sendiri. It’s gonna be great! Tpi sekarang aku akan mengompres luka Wulan. Saat aku meletakkan handuk hangat itu, dia terbangun.

“Good morning, Joon Oppa…” Sapa Wulan smbil tersenyum.

Omo~ dia memanggilku oppa! “Morning…” Jawabku dingin.

“Apa yg aku lakukan??” Tanya Wulan.

“Mengompres lukamu” Jawabku dingin.

“Kau seperti es…” Katanya.

“Trus aku harus kayak mana?” Tanyaku smbil menatap lurus kematanya.

Ia tak menghindari tatapanku. “Hangatlah sedikit. Jangan terlalu ketus…”

Aku mendengus. “Kenapa kau ingin aku ramah?”

“Mmmm, entahlah…” Jawabnya.

“Kalo belum ketemu jawabannya jangan harap aku ramah…” Kataku.

Dia mengembungkan pipinya, kecewa. “Padahal kau lumayan tampan…”

“Lumayan?” Tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku.

=====WULAN POV=====

“Lumayan?” Tanya Joon sambil menaikkan sebelah alisnya. Aegyo~

“Euh,, kenapa pertanyaanmu selalu membuatku merasa aneh?” Tanyaku.

Joon tersenyum tipis. Sangat sangat sangat tipis. Hanya sedikit kedutan dipipi yg mungkin tidak terlihat kecuali kau memperhatikan wajahnya lekat. Seperti yang aku lakukan. Huft~ DASAR GUNUNG ES!

“Istirahatlah…” Katanya smbil meninggalkanku.

“Kau mau kemana?” Tanyaku sambil menahan tangannya.

“Merakit senjata” Jawabnya. Jujur sekali =,=

Kenapa aku makin penasaran sama dia? Apakah aku jatuh cinta. Ya~ begitulah… Mungkin? What ever, deh. Bahuku nyeri, mau tidur aja! *nie orang ngoceh sendiri, kayak Ahda klo ngerjain soal metik*

=====JOON POV=====

Aku mulai melihat sketsa pistol yg akan kubuat. Ini adalah rancangan terhebat sepanjang sejarah karier Lee Joon!*lebay*Hehehehe~ aku tinggal menggabungkan meberapa bagian dan… selesai sudah! Sangking ingin sempurna, peluru dari pistol ini aku ukir.

Kulihat Thunder sedang mencari rongsok yg bisa di jual lg. Thunder, Wulan, aku berjanji akan memberi kehidupan yg lebih baik untuk kalian! Pegang janjiku! Sekarang, satnya aku mengecek keadaan Wulan. Aku masuk kedalam Van itu.

Wulan sedang tertidur. Aku membelai rambutnya dan tersenyum. Tiba-tiba Wulan membuka matanya. Sontak wajahku memerah…

“Ternyata kau bisa tersenyum…” Kata Wulan menahan tawa.

“Kau ini… Aishh~ trserahlah…” Kataku. Kuyakin wajahku sudah kayak kepiting rebus.

“Kenapa mukamu merah? Apa kamu menyukaiku?” Tanya Wulan.

“Apa kamu menyukaiku?” Tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Ya, sejak pertama bertemu. Waktu kau menyelamatkanku, waktu kau mengobati lukaku, waktu kau menjawab sapaanku pagi ini, kamu aja yg nggak sadar karna sikap dingin dan sok acuh padaku…” Jawab Wulan.

Wajahku memerah mendengar pengakuannya. Tiba-tiba dia menarik kaos yg kupakai dan mencium keningku. Stelah beberapa saat, Wulan melepas kecupannya itu dan mendorongku agar menjauh.

“Jangan terlalu dingin padaku…” Katanya dengan suara lembut.

“Okay, Chagi…~” Jawabku, berusaha untuk terlihat dingin tapi gagal. Wajahnya berubah cerah mendengar nickname-ku untuknya.

Untuk beberapa saat aku bercanda dengannya dan bisa tertawa lepas, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku tertawa didepan orang lain…

=====THUNDER POV=====

Aku mengintip semua adegan tadi. Joon hyung tertawa! Entah mengapa hatiku ikut senang melihatnya bgitu. Aku yg sudah lebih dari 15 tahun hidup bersamanya blom pernah liat tertawa lepas sperti td. Wulan membawa keajaiban untukku dan Joon.

=====JOON POV=====

Target : Keluarga Choi Siwon

Tempat target : Villa Cooperhill

Upah : 100.000.000 won

Aku menguji pistolku sekarang. Aku menembak sekali. Dengan mulus pelurunya berbelok ke benda yg ada dibelakang target. Pistolku berhasil…

Aku masuk kedalam Van dan meninggalkan surat untuk Thunder.

Thunder,

Aku akan pergi lama. Selama aku pergi, jaga Wulan. Sampai kau menyakitinya, WATCH OUT!

Joon

Aku pun menyelinap pergi dari Van itu sementara 2 orang yg paling kucintai sedang tertidur lelap disana.

NARRATOR BY AUTHOR :

1 minggu setelah Joon pergi. Thunder yg menggantikan posisi Joon mengurus Wulan. Selama itu juga rasa cinta Wulan perlahan-lahan pindah dr hati Joon ke hati Thunder. Dan entah mengapa Thunder menerima perasaan dari Wulan. Padahal dia sudah mengemban amanat dari Joon.

NARRATOR END

=====WULAN POV=====

Aku sedang duduk disofa bersama Thunder. Seperti biasa, bercanda sambil minum cappucino favorit kita berdua. Aku merasa bersalah kenapa rasa cintaku ini berpindah tempat. Aku merasa mempermainkan Joon. Apa aku salah??

Tiba-tiba saja Joon masuk dan melihat Thunder sedang menggenggam tanganku. Aku merasa tidak enak. Tapi Thunder enggan melepas genggaman itu. Joon menarik lenganku, aku melepaskan cengkraman Joon.Sontak Joon menarikku keluar dari Van dengan setengah berlari. Thunder mengejar. Dia menarikku dari belakang dan berhasil melepas cengkraman Joon.

=====JOON POV=====

BERANI SEKALI DONGSAENG-KU YG SELAMA INI KUPERCAYA MENGAMBIL SATU-SATUNYA YEOJA YG PERNAH KUCINTAI! Padahal selama ini aku sedang berusaha mamberikan yg terbaik untuk mereka! Oh god, what can I do now? It’s War!

Aku menonjok Thunder.

Apa mungkin Wulan memang lebih bahagia dengan Thunder?

Thunder membalasku dengan satu tonjokan keras diperut.

Mungkin memang takdir mereka untuk bahagia berdua?

Aku menendang Thunder sampai dia terpelanting kebelakang.

Yah, memang aku harus mengalah kepada dongsaeng-ku ini. Dia memiliki lebih banyak kesempatan untuk hidup normal… bersama Wulan, cinta pertama dan terakhirku.

Aku mengacungkan pistol rakitanku.

Wulan berdiri melindungi Thunder. Betul perkiraanku. Mereka saling mencintai. Sebaiknya aku jangan mengganggu. Lebih baik aku pergi saja. Dari dunia ini.

Aku menarik pelatuk pistol.

Aku berusaha mempengaruhi gerak peluru itu dengan pikiranku. Berhasil. Peluru itu berbalik arah kepadaku. Tanpa kusadari air mataku menetes. Lelaki tak boleh menangis, seperti yg dulu kukatakan pada Thunder saat umurnya masih 6 tahun. Peluru itu bersarang di leherku. Aku tersenyum dingin.

=====AUTHOR POV=====

Thunder menyadari apa yg terjadi. Dia segera menghampiri hyung-nya tersayang dan merengkuh kepala Joon ke pangkuannya. Darah segar mengalir deras dari ;lubang yg dihasilkan peluru itu. Wulan ikut bersimpuh disamping orang yg sempat mengambil hatinya itu.

“Thu..Thunder.. kau jadi orang yg baik, ya? Jangan jdi orang jahat yg jadi pembunuh bayaran kayak hyung-mu ini…” Kata Joon tersengal-sengal.

“Hyung, kau pasti selamat! Dan kau bukan orang jahat, ayo bertahan…” Rengek Thunder seperti anak kecil.

“Laki-laki harus kuat, jangan merengek. Kau.. harus.. ja..ga.. Wulan” Balas Joon.

Perlahan, Joon mengalihkan pandangannya ke Wulan.

“Cha..gi, go..ma..wo..yeo. Kh..kau.. su..dah..me..me…ngajariku ..apa..itu..cinta..dan..ak..khu..mau .. kmu ..ba..ha..gia.. sa..ma.. Thunder. Kh..kalo.. d..ia ku..ra..ng a..jar, ton..jok.. saja…” Nafas Joon semakin pendek.

“Oppa, dalam keadaan seperti ini kamu masih bercanda!” Kata Wulan dengan derai airmata.

Joon mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. 2 tiket pesawat ke paris dan cek sebesar 90.000.000 won. Thunder tak tahan lagi. Airmatanya jatuh dengan deras.

“Ka..lian per..gi ke..sa..na.., Thunder, tun..juk..kan ba..kat.. mena..ri..mu pa..da.. du..nia. ak..u mau nan..ti, d..dari a..atas .sa..na aku.. melihatmu…. Nge-dance…diatas…..panggung….besar…” Lanjut Joon.

Joon mengambil jatah terakhirnya untuk bernafas. Joon bernafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dibibir ranumnya terukir sebuah senyum termanis milik Joon. Senyum termanis yg Thunder dan Wulan tidak pernah melihatnya. Senyuman terakhir Joon.

Derai airmata dan raungan putus asa milik Thunder terdengar memilukan. Ia menyesal atas kecerobohannya mencintai cinta pertama hyung-nya. Dan ia terharu karna baru tahu kalau hyung-nya selalu berusaha memberi yg terbaik untuknya. Namun semua sudah terlambat…

Hyung, naega jeongmal baboya! Mianhae, Hyung… Jerit Thunder dalam hati.

“Gwenchana…”

Sebuah suara bisikan terdengar oleh Thunder tapi langsung menghilang bersama suara deru angin yang membekukan di musin dingin ini. The War Is Over…

~THE END~

———————————————–

Garing pisan euy! Maap ni author blom profesional…^^

Tpi anggap aja ini comeback stage & mungkin goodbye stage karna author harus balik ke boarding school 4 hari lagi… ^^

Anneyeong!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s