[2MIN] Love Like This Chapter 1

Tittle : Love Like This Chapter 1

Author : Lidya

Main Cast :

–          Lee Taemin as girl

–          Choi Minho as boy

–          and other ^^

Pairing : 2Min, Onkey, and many more ^^..

Genre : Romance

Rating : T

Length : Chaptered

*note: Big Thanks for everyone who read my ff..
please don’t be a Silent Reader..
i need your comment.. Once again, Thankss.. ^^ Continue reading

[CHAPTER 1/2] Love Stiff

 

Title : Love Stiff

Author : Tria DeAngelo

Cast: Lee Taemin

Jung Ji Hoon

Dakota Fanning as Cassandra Alexander

Genre : romance, friendship , family

Rating : PG-15

Length: sequel

Disclaimer : coba-coba buat FF yang tokoh perempuannya barat. Semoga tidak mengecewakan.Kalau mengecewakan ya dimaklumin,namanya juga coba-coba, hehe. Mohon segala kritik, saran, advice, de el el. Karena itu akan menjadi intropeksi bagi diri saiiia. Matur nuwun *bow 90 derajat. 😀

Matahari perlahan lengser ke barat, mengantar burung camar kembali ke haribaan. Berbeda 180 derajat dengan gadis berambut pirang gelap bergelombang tersebut. Ia baru saja menginjakkan kaki di Negeri Gingseng tepatnya di Bandara Incheon Korea Selatan. Hawa asing negeri orang cukup membuatnya tidak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak punya pilihan. Jika perusahaan ayahnya tidak bangkrut. Jika ayahnya tidak perlu menggadai rumah mereka. Jika kecelakan kereta bawah tanah itu tidak terjadi. Jika ia tidak menemukan sang bunda gantung diri karena frustasi. Mungkin mereka bertiga sekarang berada di Hawai, menyapa tiap orang yang ditemui dengan aloha. Menghabiskan waktu berjemur di bawah terik matahari yang hangat. Nyatanya, itu tak lebih dari omong kosong. Sudah jatuh, terpeleset tertimpa tangga pula.

”Cassandra!!!”

Lamunannya pecah seketika berganti keterkejutan mendengar namanya disebut. Seorang bapak-bapak menggerak-gerakkan kertas putih bertuliskan ”CASSANDRA” dan ibu-ibu di dekatnya melambai-lambaikan tangan.

”Uncle Kim, Aunt Jun Ah. Nice to see you again,” Cass memeluk kedua orang tersebut bergantian.

”Ahh,.Cassandra kecil sudah besar rupanya. Cantik pula,” Aunt Jun Ah membelai Cassandra lembut.

”Sudah, lepas rindunya dilanjutnya di rumah. Sudah sore. Kajja!” ajak Uncle Kim.

Sepanjang perjalanan Cass, begitu nama gadis itu biasa disapa mengamati pemandangan sekeliling. Kota Seoul dipenuhi orang-orang berlalu-lalang dengan urusan masing-masing. Tidak berbeda jauh dengan tempat tinggalnya dulu di New York.Keduanya sama-sama memegang gelar yang sama sebagai kota yang tak pernah tidur. Hanya saja, di sini mayoritas penduduknya bermata sipit dibalut kulit seputih susu.

”Sudah sampai!” Uncle Kim berseru riang, dibawanya koper bersama ransel ke dalam rumah.

”Uncle, aku bisa membawanya sendiri,” Cassa berusaha mencegah namun lelaki paruh baya itu menolaknya.

”Gwencana, kau pasti lelah. Masuk, makan dan beristirahatlah. Paman akan membawa barang-barangmu ini ke kamar.”

”Tapi..,”

”Ayolah Cass, pamanmu benar,” Aunt Jun Ah menggandeng Cass masuk.

Ada hal yang berbeda ketika Cass memasuki rumah minimalis bercat biru laut tersebut. Terasa nyaman seperti rumah sendiri. Koleksi porselen Cina tertata rapi, lukisan-lukisan khas Korea terpajang sinkron dan foto-foto berbingkai di tata apik di tempatnya, benar-benar sedap dipandang mata. Salah satu foto menarik perhatian, terpampang jelas mendiang orang tuanya bersama Uncle Kim, Aunt Jun Ah juga dirinya di State Line Lookout lima tahun silam. Pandangannya mulai mengabur.

”Mereka benar-benar sahabat terbaik,” seolah mengerti tatapan si gadis, “Banyak hal yang tidak bisa dimengerti di dunia ini Nak. Sering kali itu perasaan berkata tidak adil, serasa dunia begitu kejam. Kita hanya bisa berharap namun Tuhan yang menentukan. Satu hal yang pasti, Dia akan memberikan yang terbaik. Percayalah, ” Aunt Jun Ah menepuk pundaknya pelan.

” Ya,.I agree with it. Aku ingin langsung istirahat. Pengaruh jet lag.”

”Yakin tidak mau makan?”

”I was.”

”Ne, take a rest. Kamarmu ada di lantai dua. Namamu sudah tertera di pintunya.”

”Thanks,” Cass tersenyum sekilas sebelum melesat menaiki tangga.

Hidup memang bagaikan roda yang berputar, segala hal mengalami perubahan baik lambat maupun cepat. Tak ada yang tahu pasti, bahkan peramal handal pun bisa saja meleset dalam prakiraan. Hal itulah yang kini dialami Cassandra, awalnya hidup berjalan seperti melewati jalan tol semua berjalan baik-baik saja sampai suatu petaka menyambar tak ubahnya angin puting beliung. Ia kehilangan semuanya, harta yang tersisa pun hanya sedikit tabungan dan apa-apa yang ia bawa. Masih beruntung Uncle dan Aunt Kim mau mengasuhnya, disamping rasa solidaritas persahabatan erat antara keempatnya, toh pasangan suami-istri Kim belum jua dikaruniai momongan.

”Cass, hari ini akan menjadi hari penting. Ahh, kau cantik sekali dengan seragam itu,” Aunt Jun Ah mengamati Cassandra dari ujung kepala hingga mata kaki.

”Astaga Bi, seragam ini membuatku sumpek,” Cass mengendorkan dasinya, jika boleh jujur dia lebih memilih memakai kaos oblong dibalut jeans belel daripada balutan kemeja, rompi, dasi dan jas yang kini melekat di tubuh proposionalnya

”Nantinya juga akan terbiasa, kau sudah tahu rute perjalan ke sekolah kan? Paman harus segera ke kantor dan bibimu akan mengurusi kedai. Jadi, kami tidak bisa mengantarmu.”

”Take it easy, I know. Gamsahamnida Paman dan Bibi sudah mau menerimaku. Maaf jika merepotkan,” rasa bersalah menghinggapi, ya bagaimana tidak? Mereka tak ada hubungan darah namun mau menerimanya seperti keluarga sendiri.

”Bibimu ini harus bilang berapa kali, kau sama sekali tidak merepotkan. Justru membuat rumah ini menjadi berwarna,” Aunt Jun Ah mengelus pundak Cass lembut.

Sesampainya di sekolah Cass dilanda rasa was-was. Andai ini New York mungkin ia tak akan segugup ini. Sayangnya, ia beada disini tanpa teman apalagi kenalan. Sempat menyesal tidak memilik teman warga Korea Selatan di account Facebook dan twitter. Menyesal tiada guna, beradaptasilah, hanya ada itu di kepala. Tatapan dari tiap murid yang berpapasan membuat langkah kakinya berat. Beberapa gadis tampak asik berbisik saat melihatnya. Oh God, I want it end, batin Cass.

The Tired Day, Cass benci ini. Apabila ada koran harian sekolah, pastilah tajuk utama akan berjudul ”HEBOH : Anak Pindahan New York”. Seharian penuh ia diberondong pertanyaan dari murid-murid di sekelilingnya, belum pelajaran yang membuatnya mupeng karena penguasaan bahasa Koreanya yang masih minim. Faedahnya bahwa ia memiliki teman sebangku yang bisa diandalkan. Lumayan membuat lega.

”Kang Eun Ri,” jawab gadis berambut sebahu itu ketika ditanya namanya.

Berita kehadiran Anak Pindahan dari New York sampai ditelinga lima orang namja berpredikat populer di sekolah.

”Kau sudah tahu kedatangan gadis New York itu kan?” tanya namja bermata sipit.

”Tentu saja, ini ada yang mengirimiku fotonya,” si namja bermata belo menunjukkan ponseknya.

”Sini aku mau lihat,” namja dengan postur tubuh terpendek tapi juga paling berotot merebut ponsel dari si pemilik, “Whoa, neomu yeppeo.”

”Bukannya itu orangnya,” namja bergelang pink menunjuk ke arah yeoja yang tengah sibuk pada ponselnya.

Taemin pun tertarik dan mengarahkan pandangan ke objek pembicaraan chingudeulnya sekarang. Tercengang, dari jarak jauh terlihat jelas bahwa gadis berkulit khas Kaukasoid tersebut terlihat “ngejreng” diantara murid lainnya. Di samping faktor dia berbeda ras dengan mayoritas murid berdarah Asian Mongoloid juga cara berseragam terlihat sedikit berani, dasi kendor, rambut dibiarkan berantakan, kemeja tak berkancing, kaos kaki garis dan sepatu kets warna mencolok. Bukan hanya itu, ekspresinya yang tampak cuek dan apatis membuat gairah Taemin bangkit, ingin mengenal lebih dalam.

”Siapa namanya?”

”Cass, Cassandra Alexander. Why? Kau tertarik?” tanya Jonghyun menyelidik.

Taemin tersenyum,”Yeoja yang menarik.”

”Lalu mau dikemanakan selir-selirmu itu? Mereka pasti akan sakit hati,” Key melambai pada yeoja-yeoja centil yang sedang bergosip ria.

”Cih, yang benar saja. Mereka seperti hantu,” jawab Taemin tak suka.

“ya Taemin, mereka tergila-gila pada pesona imutmu itu tahu!,” Minho angkat bicara.

”Enak saja kau bicara, aku ini manly!” Taemin menepuk dadanya. Tak habis pikir bagaimana temannya itu bisa menempelkan image imut pada dirinya. Padahal ia sudah mati-matian tampil manly membentuk otot dengan fitnes, assesoris berbau rantai sampai pakaian warna gelap dipadu jeans sobek di bagian paha sebagai pakaian sehari-hari.

‘’Anio, Taeminku tetap imut. Lucu-lucu,” Onew mencolek pipi Taemin gemas, membuat si empunya masam. Ia tidak marah dibilang imut, hanya saja mengingat usianya sudah 17 tahun, image itu sama sekali tidak cocok.

Sebelum mood-nya jelek Taemin memilih untuk pergi.

”Poor Cassandra! Dasar bodoh,” Cass memukul kepalanya pelan. Ia benar-benar ceroboh menaiki bus yang salah sehingga sekarang ia terdampar di trotoar, sendirian persis seperti orang linglung. Belum lagi ponselnya kehabisan batere gara-gara terlalu lama digunakan untuk ng-game. Melihat langit sudah mulai berwarna jingga membuat Cass menerawang paman dan bibi pasti khawatir sekarang. Setelah itu kembali menyalahkan diri sendiri. Cass duduk di bawah lampu jalanan, tidak ada satu pun bus melintas dan itu membuatnya semakin gelisah.

Brrmm!

Sebuah motor sport berhenti tepat di depannya. Sang reader membuka helm, memperlihatkan sosok rupawannya.

”Perlu bantuan?”

Cass hanya bengong lebih tepatnya bingung harus menjawab apa.

”Sepertinya kau tersesat?” namja tersebut kembali bertanya.

”Ne, bisa beritahu aku jalan menuju perumahan Daesuke?”

”Aku bisa mengantarmu kesana.”

Cass terdiam, lalu memperhatikan sosok di hadapannya. Seorang anak laki-laki berambut coklat gelap membingkai wajahnya yang bisa dibilang kekanakan namun juga menawan. Cass, what do you think! Ia orang asing, bisa jadi sebenarnya seorang penculik atau bahkan psikopat seperti Jack The Ripper.

”Aku tidak seburuk itu,” seolah mengerti apa yang dipikirkan gadis itu,”Kita satu sekolah, aku Taemin, Lee Taemin.”

”Cass, Cassandra Alexander,” ia menyamut uluran tangan Taemin seketika merasakan kehangatan menjulur ke sekujur tubuhnya.

”Jadi, mau kuantar?”

Cass tampak ragu-ragu.

”Tawaranku berlaku satu kali, atau kau tak bisa pul..”

”Oke, I want.”

Taemin tersenyum simpul, mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Sesekali melirik ke arah spion untuk melihat gadis di belakangnya. Bukan pertama kali bagi Taemin berinteraksi dengan gadis barat. Akan tetapi Taemin merasa Cass berbeda. Meskipun ia belum tahu pasti itu apa. Is it love? Pertanyaan konyol. Bagaimana bisa jatuh cinta terhadap seseorang yang baru dikenal beberapa menit yang lalu.

Hari sudah malam ketika keduanya sampai di rumah. Cass membungkuk pelan, mempraktekan salah satu adat budaya orang Korea.

”Terima kasih.”

”Sama-sama, masuklah orang tuamu sudah menunggu,” ucapan Taemin sempat membuat Cass terhenyak. Ia menyunggingkan senyum menahan rasa getir yang masih bergejolak di hatinya. Sepertinya Taemin melihat gelagat aneh, belum sempat bertanya gadis bermata biru itu sudah berbalik.

Cass berlari memasuki rumah,tergesa membuka pintu. Sampai tidak memperharikan dari kaca jendela besar seseorang juga melakukan halyang sama.

Bukkk!

“Aww!” erang Cass,pantatnya dengan sukses menghantam lantai. Sebuah tangan terayun,ia menyambut kemudian berdiri sempoyongan. Sejenak mengatur nafas lalu mendongak melihat sosok asing dihadapannya.

To be continued……….

Always In Your Side

ALWAYS IN YOUR SIDE

 

 

Author: Hyeri Kim

Length: Oneshot

Type: Straight

Genre: Tragedy

Main cast: Oh Chaeri (OC), Lee Sungmin

Disclaimer: The Cast is not MINE!! But this story is REAL MINE !

 

Oh Chaeri POV

 

“ya! Oh chaeri wae gurae?!” ucap Sungmin emosi, sambil tetap menahan tanganku. Aku tetap mencoba melepaskan tangannya, namun nihil tenaganya terlalu kuat.

“LEPASKAN AKU LEE SUNGMIN!!” teriakku melupakan semua emosiku. Sungmin melemahkan genggaman tangannya. Akupun berlalu meninggalkannya. Dia hanya diam, tetap di posisinya dan berpindah satu inchi pun.

Aku Oh Chaeri, seorang yeoja pecicilan, sedikit tomboy dan menyukai belad diri yang beruntung bisa bertemu dengan Lee sungmin seorang member boybang terkenal SUPER JUNIOR. Aku bertemu dengannya saat dia sedang melatih beladirinya di tempat aku memperdalam bela diri. Sejak itu kami berdua jadi sering bertemu meskipun jadwalnya sibuk dia selalu menyempatkan diri untuk ke tempat ini, namun tak disangka menembakku dan sekarang dia adalah namjachingu ku. Tapi kami berdua memilih untuk belum memberitau pada media kalau kami berdua adalah sepasang kekasih, yang mengetahui hubuunganku hanya sahabat-sahabatku dan sungmin, orang tua kami, member SJ dan manager sungmin, hanya mereka.

Hari ini adalah tepat dimana aku dan dia 1 tahun berpacaran. Namun, hari yang menurutku special ini malah dirusak olehnya. Dia malah asyik mengobrol dengan beberapa yeoja cantik jika dibanding denganku, aku sama sekali tidak ada apa-apanya. Bagaimana aku tidak cemburu?

1 jam 2jam 2½jam. Ber jam-jam sudah aku menunggunya! Hey! Ini hari special bagiku Sungmin-a, aku sudah mengatakannya kan?! Masih tak ada waktu untuk ku hah??!!

Aku mengerti kau artis populer, tapi apakah tak ada 1 haripun untuk kita habiskan berdua? Hanya berdua. Padahal hari ini kau libur, kapan lagi kau dapat libur sungmin-a. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Karena mungkin di hari kemudian tak akan adalagi hari ini.

Aku berjalan lurus dengan tatapan kosong entah kemana. Aku terlalu lelah dengan semua ini.

GREP!!

Seseorang memegang pundakku dari belakang, aku memalingkan wajhku ke arahnya.

“ah.. kau hyukjae, kukira siapa” ucapku menghembuskan nafas panjang

“YA! Wae gurae?”

“ani..”

“pastu sungmin hyung kan? Ayo ikut aku, aku akan mentraktirmu” ucapnya menariku tanganku ke arah mobilnya

—-> (di restoran)

Aku menceritakan smeuanya pada sahabtaku, Lee Hyukjae. Dia mengangguk mengerti.

“aku harus bagaimana hyukie?” tanyaku gelisah

“mollayo. Ohya apa kau sudah memberitahunya tentang kondisimu itu? Kau harus memberitahunya Chae-a” ucapnya balik bertanya.

“aku tidak akan memberitahunya. Aku tak ingin mengkhawatirkannya” jawabku. Dia mendengus kesal tak puas dengan jawabanku.

Ya, benar.. aku memmpunyai tubuh yang lemah karena penyakit yang menggerogoti tubuhku dan tidak dapat disembuhkan. Hanya keluarga dan sahabat terdekatku yang tau. Eunhyuk mengetahuinya saat aku jatuh pingsan di dorm SJ yang saat itu hanya ada dia disana, dia membawa ke rumah sakit dan akhirnya dia tau semuanya.

Oh Chaeri POV .end.

 

Chaeri sama seklai tidak menyadari kalau Sungmin daritadi memperhatikannya bersama Eunhyuk dari jauh.

“ASHIT!! LEE HYUKJAE !!” emosi Sungmin dan pergi melajukan mobilnyadengan kecepatan penuh

Sungmin menjalankan mobilnya dengan sangat cepat. Sebelumnya Sungmin belum pernah seperti ini.

“hey darimana saja?” sapa Kyuhyun sesaat sungmin sampai di dorm. Sungmin tidak menjawab. Dia melempar tasnya sembarang dan membantingkan dirinya ke atas tempat tidurnya yang nyaman.

“ya! Wae gurae?” tanya Kyu, melihat gelagat aneh dari hyungnya itu. Lagi-lagi sungmin hanya diam tak berkata satu huruf pun dan membenamkan wajahnya ke bantal yang ada di depannya.

“YA!! LEE SUNGMIN! MALHAEBWA!” kyuhyun karena merasa dirinya di acuhkan.

“CHO KYUHYUN!! BISAKAH KAU DIAM HAH?!!” teriak sungmin tak kalah emosi, kyuhyun kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.

“aku pulang..” ucap seseorang membuka pintu dorm.

“siapa itu kyu?” tanya sungmin, masih dalam posisi yang sama.

“apa kau tidak kenal suara itu? Itu eunhyuk, siapa lagi yang punya suara seperti itu” jawab kyu dengan masih konsen dengan aktivitas rutinnya itu. Mendengar nama eunhyuk, sungmin berlonjat keluar kamar mencari yang empunya nama.

BRAKK!!

Sungmin menggebrak pintu kamar eunhyuk. Sungmin masuk ke kamar Eunhyuk dan menyeretnya keluar kamar.

“wae gurae?” tanya eunhyuk kaget.

“apa yang kau lakukan bersama Chaeri hah?!” emosi sungmin langsung ke titik permasalahan.

“chaeri? Apa maksudmu?” tanya eunhyuk tak mengerti dengan apa yang di ucapkan sungmin.

“kau jangan berpura-pura! Kau kira aku tidak tau apa?!!” ucap sungmin makin menjadi-jadi.

Kyuhyun dan donghae yang kebetulan ada di dorm, keluar dari persemayamannya. “aku tidak mengerti hyung” ucap eunhyuk

“sudah kubilang kau jangan berpura-pura! Aku tidak butuh kemampuan aktingmu itu hyukjae!!” emosi sungmin.

“AKU TIDAK BERPURA-PURA HYUNG! APA KAU TIDAK MENGERTI DENGAN APA YANG AKU UCAPKAN?!” teriak eunhyuk. Sungmin menatap tajam Eunhyuk dan bersiap menghantam wajah eunhyuk dengan tinjunya.

“hyuung! keumanhaeyo” tahan donghae dan kyu berbarengan memisahkan kedua orang ini. “kalian ini seperti anak kecil saja. Jika ada masalah bicarakan baik-baik. Araseo!” donghae mencoba menengahi “apa masalahnya sampai kalian berteriak-teriak tak jelas seperti tadi?” tambah kyu.

“tanyakan saja pada dia!” sungut sungmin. Donghae dan kyuhyun menuntut jawaban dari Eunhyuk, namun orang yang di maksud malah kebingungan.

“cih! Kau itu sudah bertunangan dengan Kim Hyeri, sepupu Chaeri! Kenapa kau mendekati Chaeri?! Yang sudah jelaskan dia itu yeojaku!” cerocos sungmin. Kyu dan donghae mendengarkan sungmin dengan seksama. “kau salah hyung. Tadi itu aku sedang—” eunhyuk mencoba meluruskan, namun ucapannya di potong oleh sungmin “mana ada seorang penjahat mengakui kejahatannya” sungut sungmin lagi-lagi.

“terserahmu saja! Aku sudah mencoba menjelaskan” giliran eunhyuk yang emosi.

BLAM!!

Eunhyuk membanting pintu kamarnya

“ada apasih sebenarnya?” bingung kyu. Sungmin tidak menjawab, dia pun masuk ke kamarnya dan tidak lupa dengan membanting pintu kamarnya

“kyu.. sepertinya pintu di dorm ini akan cepat rusak ya?” ujar donghae

++++

Sungmin meraih handphone dia meja sebelah tempat tidurnya dan menekan nomer yang sudah sangat dia hafal.

| “yeoboseyo oppa?” ucap yeoja diseberang telepon, siapa lagi jika bukan chaeri.

“kau tadi bersama eunhyuk?” tanya sungmin to the point.

“ne oppa. Waeyo?”

“aku tidak suka kau dekat dengannya, chagi”

“waeyo? Apa yang terjadi antara kau dan eunhyuk, oppa?”

“jangan pura-pura tidak tau chae-ya! Sudah kubilang aku tidak suka kau dekat dengan eunhyuk! Araseo!”

“oppa! Sungmin oppa! Wae gurae—” ||

Sungmin memutus teleponnya itu dengan penuh emosi. “chagiya.. kenapa kau tiba-tiba marah padaku? Dan kenapa kau begitu bahagia bersama hyukjae?” gumam sungmin

 

Lee Sungmin POV

Aku menundukan kepalaku dan tak dapat kutahan aku menitik airmataku. Ini pertama kalinya aku menangis karena seorang yeoja. Kau memang hebat, Oh Chaeri. Kau berhasil membuatku menjadi seorang yang lemah. Hanya kau chae-ya.

Tapi kenapa kau lakukan ini? Apa kau membenciku? Kenapa mesti hyukjae yang bisa membuatmu tersenyum lepas seperti tadi? Aku mencoba mengetikan sesuatu di handphoneku

|to: Nae Chae-ya

Chagiya.. niga saranghandago jinjja?

|from: Nae Chae-ya

Keurom. Nan jeongmal saranghandago. Wae oppa? Apa kau sedang sakit? Palli, istirahatlah! Aku tak akan membalas smsmu atau menjawab teleponmu sebelum kau istirahat. Oppa tidurlah, jaljayo my love :*

|to: Nae Chae-ya

Baiklah jika kau yang menyuruhku J ||

Tuhan.. kenapa kau kirim malaikat ini kepadaku? Aku tak bisa marah pada yeoja itu, aku terlalu mencintainya.

—–>

Sudah 14 hari aku tak saling menyapa dengan eunhyuk semenjak kejadian itu. Begitu juga dengan Chaeri, aku belum menatap wajah innocentnya itu. Bagaimana keadaannya ya? Aku sangat merindukannya.

Aku melamun disudut ruang latihan

“hyung apa kau sudah tau tentang keadaan chaeri?” ucap seseorang mengembalikan ku dunia nyata.

“oh kau. ada apa?” ujarku sinis “ada yang ingin aku bicarakan tentang kondisi chaeri padamu” ucap eunhyuk sambil mengambil posisi duduk disebelahku.

“aku dan chaeri adalah sahabat sejak lama dari sebelum aku debut SJ. Aku senang sekali chaeri bisa bersama hyung”

“ehm ya.. aku tak butuh cerita persahabatan kalian yang indah itu. Sekarang apa sebenarnya yang akan kau bicarakan padaku?” ucapku memotong ceritanya

“kondisi kesehatan chaeri. ”

“maksudmu? Dia sehat-sehat saja”

“memang terlihat seperti tidak terjadi apa-apa, tapi organ tubuhnya sudah sangat lemah. Tiap hari dia meringis kesakitan dihadapanku karena penyakit kankernya yang sudah lama dia derita. Dia sengaja tidak memberitahumu karena dia cemas kau akan mengakhawatirkannya dan merusak schedulemu. Sejak 1 minggu yang lalu dia tak sadarkan diri di RS. Sebenarnya dia melarangku untuk menceritakan ini padamu. Tapi aku tidak bisa terus-terusan menyembunyikan hal yang harus kau tau” jelas eunhyuk sendu. Aku tak percaya dengan apa yang baru aku dengar. Aku kehilangan kontrol emosiku, aku meraih kunci mobilku dan langsung melesat ke RS yang dimaksud Eunhyuk.

YA!! CHAE-YA kenapa tak memberitauku sebelumnya hah??!!

—>

Akhirnya aku menemukan ruangan dimana chaeri berada. Aku berada dia ruang UGD, disana ada kedua orang tua chaeri dan Oh Chaehyun kakak Chaeri. Aku memanggil mereka dengan naada panik dan nafas tersengal.

“sungmin-a kenapa kau baru datang?” tanya ahjussi

“jusungeyo. Aku sama sekali tidak tau tentang ini, chaeri tidak memberitauku. Aku kesini karena diberitau hyukjae” jawabku menahan tangis.

“araseo, maafkan chaeri. Dia memang begitu” ujar ahjussi

Ah! Perasaanku berkecamuk antara sedih, marah, khawatir, kecewa dan sakit hati. Kenapa dia tidak memberitahu namjanya sendiri? Kenapa dia lebih memilih eunhyuk untuk menjadi tempat sandarannya? Apa aku sama sekali tidak berarti untuknya?

Sudahlah.. yang penting saat ini adalah bagaimana keadaan chaeri di dalam

“paboya! Sungmin paboya. Kenapa kau sampai tidak tau hah?! Dasar bodoh!” aku merutuk diriku sendiri. Aku terduduk lemas di kursi sebelah chaehyun hyung.

“hyung, sebenarnya apa yang terjadi pada chaeri?” kataku

“apa anak itu benar-benar tidak memberitahumu?” chaehyun hyung balik bertanya, aku hanya menggeleng. “narawa” titah chaehyung hyung untuk mengikutinya. Aku mengikutinya dari belakang, hingga kami berdua berhenti di koridor yang sepi yang hanya ada kita berdua disana.

Chaehyun hyun menarik nafas panjang

“chaeri mengidap kanker hati dan sudah stadium akhir yang ia derita sejak duduk di kelas SMP. 1 bulan yang lalu dokter memvonis hidupnya tak akan lama lagi. Dia tak dapat menahan sakitnya, hingga Appa membawanya ke RS. Puncaknya hari ini, entahlah apa yang terjadi menurut umma tadi chaeri tiba-tiba muntah darah padahal kondisinya sedang membaik dan dia sempat menyuruh umma untuk memanggilmu kemari.” Jelas chaehyun hyung. Seluruh tubuhku lemas mendengar chaeri sedang dalam kondisi kritis. Jinjja! Mungkin orang-orang akan menilaiku sebagai namja yang cengeng, lemah dan apapun itu. Tapi sungguh, aku benar-benar sedih tau yeojachinguku mengidap penyakit parah seperti ini dan aku tidak tau apa-apa tentang ini. Aku kecewa.

“MWO.. MWORAGO?!! ITU TIDAK MUNGKIN! ANDWE!!” histeris ahjumma. Aku dan chaehyun langsung berlari ke depan ruangan tadi. Terlihat ahjussi sedang merangkul ahjumma yang tak henti-hentinya memanggil nama anak perempuannya, Oh Chaeri. Dokter pun meninggalkan ruangan. Ada apa ini?

Chaehyun hyung mengejar dokter itu, menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Chaehyun terlihat kaget. Dia kembali dengan ekspresi yang tak dapat kubaca.

“kau harus merelakannya sungmin-a” katanya sambil menepuk pundakku dan menitikan airmatanya

“wae wae gurae!!” tanyaku menuntut jawaban

“chaeri.. chaeri…” chaehyun hyung tidak melanjutkan ucapannya. Aku mengguncang tubuhnya, menuntut jawabannya. “APA MAKSUDMU?!!”

“chaeri….” dia kembali terdiam dan mengambil nafas panjang dan menghembuskannya

“chaeri.. tak bisa menemani kita lagi, dia sudah pergi….. untuk selamanya” ucapnya di iringi isakan tangis.

“ANDWE!!” aku tak dapat menerima ini. Aku langsung menerobos masuk ke ruangan yang ada di depanku ini. Terlihat chaeri terbaring tak bernyawa. Seluruh tubuhku membeku melihat yeoja yang paling aku cintai meninggalkanku…. selamanya

“jangan!” teriaku pada perawat yang sedang menutup tubuh chaeri dengan kain putih. Perawat itu terdiam melihat sosokku. Aku  berlari ke arah chaeri. Aku menggenggam tanganya, dingin. Aku tak dapat merasakan lagi genggaman tanganya yang hangat. Aku membelai wajah chaeri, pucat. Aku tak bisa lagi melihat wajah aegyomu. Aku memeluk tubuhnya, lemah. Aku tak dapat lagi memeluk tubuh mungilmu. Aku tak bisa menerima ini.

Kajima Chaeri! Kajima!

“ireona chagi.. Ireona! Aku sudah datang. Apa kau tidak ingin melihat namjamu ini, chagi? Ireona palli” kataku sambil menguncang-guncang tubuhnya, konyol memang.

“YA!! IREONA PALLI! IREONA CHAGI! IREONA!” teriaku frustasi.

“maaf tuan, kami harus membawanya”ucap seorang perawat itu menutup wajah chaeri dengan kain putih dan membawanya pergi keluar ruangan.

“kajima! Kajima jebal chaeri-ya! Dashi naegero jebal! Nan ajik yogi ittneunde” lirihku

Aku keluar ruangan, aku tak bisa merasakan derap langkahku sendiri. Bagaimana aku bisa merasakan semua? Disaat aku kehilangan separuh nyawaku. Bagaimana bisa?

“hyung?!” teriak seseorang suaranya sangat kukenal. Oh ternyata member SJ ada disini dan beberapa keluarga chaeri termasuk hyeri ada disini.

“hyukie” aku memeluk eunhyuk yang sedang menangis sesegukan “maafkan aku” lirihku

“gwenchana hyung” jawabnya sambil balik memeluku. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan eunhyuk.

“sungmin-a…”

“sungmin hyung..”

Kurasakan para member SJ memeluku. Banyak yang menyayangiku tapi aku sama sekali tak merasakannya, hampa sudah semuanya.

—->

“kau berbohong chagiya!” lirihku. Airmataku terus mengalir mengantar chaeri pergi. Kini hanya tinggal aku, eunhyuk dan hyeri di pemakaman chaeri. “kau berjanji akan selalu berada disampingku. Tapi kau malah pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Kau jahat” ucapku (lagi).

“baru pertama kali aku melihat sungmin oppa, menangis seperti ini” bisik hyeri pada tunangannya “nado..” jawab eunhyuk. Aku dapat mendengarnya.

“hyung ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang” ajak eunhyuk.

“andwe. Aku akan disini menemaninya.. dia tidak suka sendiri” jawabku

“chae-ya akan lebih tidak suka jika oppa terus-terusan seperti ini. Kajja oppa kita pulang” giliran hyeri yang mengajakku.

Aku diam sejenak. Lalu berdiri disamping eunhyuk “kajja, 혁 kita pulang”

—->

Aku membuka surat terakhir Chaeri untuku ysng dia titipkan pada hyeri. Ah! Aku benar-benar harus berterimakasih padanya.

 

Aku membuka surat yang terlihat lusuh itu.

 

 

Annyeong oppa ^^!

Oppa ini aku Oh Chaeri, orang yang mencintaimu lebih dari orang tuamu, sweet pumpkins bahkan semua tak bisa mengalahkan cintaku untukmu, hahahahaha ^^. Apa kau sedang membaca ini? Emm, kertas ini sepertinya sangat lusuh ya? Habis, airmataku tak mau berhenti, aku lelah mengganti kertas terus, kalau tidak salah sudah ratusan kali aku mengganti kertas.

Ah, maafkan aku, mungkin saat kau membaca ini aku sudah tidak ada disini, maafkan aku. Oppa, kau tau tidak bahagianya aku mempunya namjachingu sepertimu?

 

ya, kau pasti tau jawabannya kan? Aku haruslah sangat bahagia punya namja chingu seorang lee sungmin, betul tidak? Aku sama sekali tak ingin kau pergi. Aku ingat janji kita, bahwa kita akan selalu bersama selamanya, dan aku juga masih ingat perkataanmu waktu itu “aku ingin kita bersama selamanya, sampai kita punya anak cucu banyaaaak” masih segar di pikiranku padahal itu kan sudah lama.

Kadang-kadang aku ingin pamer pada teman-temanku kalau aku adalah yeojachingu lee sungmin idola kalian hahaha. Tapi urung kulakukan karena aku bukan mencintai Sungmin super junior tapi aku mencintai lee sungmin yang seorang Martial Art Boy, seorang yang tidak bergantung pada nama super junior hanya Lee Sungmin.

 

 

Maafkan aku oppa, aku tak bisa menepati janjiku untuk selalu bersamamu dan aku tak bisa menjadi Ibu dan Nenek dari anak cucu oppa. Apa kau kini sudah tau yang sebenarnya? Pasti kau marah padaku kan karena aku tak memberitahumu? Ku mohon maafkan aku ya oppa. Saat it, tanggal 5 Mei 2010 (sudah lama ya? ) hari yang masih segar dalam ingatanku, kau menyatakan perasaanmu padaku di dorm SJ saat aku sedang mengantar Hyeri. Kau tiba-tiba memanggilku ke ruang tengah dan mengumpulkan semua member disana, kemudian kau menggenggam tanganku dan berkata “Oh Chaeri.. Saranghaeyo. Would you be my girlfriend?” Hahaha, aku benar-benar ingat semuanya, tatapanmu, wajah merah padammu dan hembusan nafas yang menderu masih bisa aku rasakan dengan jelas. Hari itu juga aku menjadi yeojachingumu, kau menciumku di depan member Sj dan Hyeri. Hey! Itu first kissku kau mengambilnya tanpa izin! Sungguh, aku sangat malu saat itu dasar nappeun namja 😛

Waktu bergulir sangat cepat, tak terasa sudah satu tahun kita bersama meskipun tak dapat pengakuan dari para fansmu -_-“.

Aku akan memberitahumu sekarang, meskipun sudah telat.

Aku mempunyai penyakit kanker hati sejak aku SMP, aku sempat sembuh. Tapi tiba-tiba kanker itu muncul lagi dan sudah sampai stadium akhir dan parahnya lagi aku mengetahui ini saat aku sudah dewasa seperti sekarang. Ohya, tolong sampaikan terima kasihku pada Hyukjae dan Hyeri ya. Karena berkat dia nyawaku bisa tertolong (saat itu), waktu aku sedang mengunjungi dorm mu dan sedang menunggumu, aku di dorm bertiga bersama hyukjae dan hyeri, tiba-tiba uluhatiku kembali terasa sakit, aku tak dapat menahan sakitnya hingga akhirnya aku jatuh pingsan dan yaa sejak itu aku tau bahwa ‘sialan’ itu datang kembali dan sudah merusak organ tubuh pentingku.

Aku mulai menjalani pengobatanku lagi, tapi hasilnya nihil. Aku malah semakin terpuruk dalam kondisiku. Sampai akhirnya dokter memvonis hidupku tak akan lama lagi, aku pastilah sangat sedih. Aku tak bisa membahagiakan kedua orangtuaku dan chaehyun oppa, aku tak bisa bersama sahabat-sahabatku, aku tak bisa berlatih beladiri lagi, tak bisa pergi nonton sama hyeri, dan yang paling penting aku tidak bisa bersamamu Sungmin Oppa. AKU KESAL! Aku ingin marah pada Tuhan, kenapa aku? Apa dia marah padaku?  Aku sempat depresi karena ini, kau pasti ingatkan waktu itu kau mengajakku pergi tapi Chaehyun oppa yang menemuimu dan bilang aku tidak bisa pergi. Aku terus menjauhimu. Tak lain, hanya agar kau membenciku dan melupakanku. Karena orang yang kita benci mudah untuk dilupakan bukan?

Aku tak memberitahumu karena aku takut kau khawatir dan malah merusak kariermu karena aku tau sifatmu. Pasti kau menyebutku egois. Aku bukan yang terbaik untukmu. Kau jangan menangisiku, aku sedih jika kau menangis karena yeoja egois sepertiku. Aku tak pantas untukmu. Kuharap kau dapat menemukan gadis yang lebih pantas dibanding denganku, aku yakin d^^b.

Aku tak dapat menahannya oppa! Rasa sakit ini selalu muncul. Bahkan saat aku menulis ini aku sedang meringis kesakitan. Tapi kini aku sadar, Tuhan bukan marah padaku. Tuhan sangat merindukanku hingga ia memanggilku untuk bersama disisinya. Aku harus pergi oppa, jaga kesehatan ya jangan lupa terus latihan martial aku ingin melihatmu menjadi master di atas sana ^^. Mungkin kita akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Aku berjanji di kehidupan selanjutnya aku akan menepati janjiku.

Aku harus pergi, maafkan aku atas semuanya yang telah membuatmu kecewa. Ohya! Satulagi KAU JANGAN MENANGIS! Kalau kau menangis kau akan membuat kertas ini makin lusuh dan tidak bisa terbaca lagi, susah aku membuat ini XD

 

Annyeong oppa.. Mianhae.. Gamsahae.. Saranghae :* 

 

 

 

Aku melipat kembali kertas itu, aku mengacak rambutku frustasi. Kenapa kau tak memberitahuku? Kau telah membuatku sakit, chaeri. Kau kejam chaeri! Meninggalkanku dan hanya tingglak sepucuk surat saja, kau memang egois. Tapi aku mencintaimu, aku tak dapat membenci dan melupakanmu, maaf. Aku tak bisa mengabulkan permintaanmu.

Aku menangis sejadi-jadinyasambil terus memanggil-manggil nama chaeri. Aku memang lemah karenanya. Pertahananku runtuh, aku pingsan.

++++

“ya! Sungmin oppa, sudah kubilangkan jangan menangis! Kenapa kau malah menangis?! Uljimayo oppa”ucap seorang gadis manis dihadapanku, siapa lagi kalau bukan kau Oh Chaeri. Aku ada dimana? Disini hanya ada sebuah ruangan putih yang sangaaaaaaaaaaat nyaman

“chae-ya.. kau sangat cantik, tidak seperti biasanya kau seperti malaikat” cerocosku, dia hanya tersenyum menanggapiku. “aku ingin tetap berada disini” tambahku

“andwe oppa! Kau harus kembali. Kembalilah, semua membutuhkanmu. Ini permintaan terakhirku, kembalilah dan carilah gadismu okay? Percayalah, aku akan selalu ada di sisimu. Sekarang kembalilah” ucap chaeri lembut, menatap dalam kedua mataku.

“selamat tinggal” ucapnya lagi kini dia benar-benar menghilang.

“sungmin-a.. sungmin-a” suara kyuhyun memanggil namaku. Perlahan aku membuka kedua mataku  yang terasa berat.

“sungmin-ah kau sudah siuman?! Ah syukurlah, kupikir kau….” ujar leeteuk hyung menghambur memeluku. “memangnya kenapa?” ucapku

“kau tak sadar? Kau itu pingsan tak ingat waktu ya! Kau itu pingsan selama 5 hari.” Rutuk heechul hyung. “yaa. Mana ada orang pingsan, sadar. Bodoh!” bisik eunhyuk

Aku tersenyum melihat satu per satu wajah-wajah sahabat ku ini, Super Junior.

—————> (six years later)

 

Hari ini aku sedang di pesta pernikahan hyukjae dan hyeri. Para member SJ semua membawa yeojanya, aku  iri tak bisa menggandeng chaeri. Tinggal aku yang belum menemukan pengganti chaeri. Sebenarnya, aku belum sepenuhnya melupakan chaeri, tapi aku sudah merelakannya.

“hai! Hyeri, sudah lama tak bertemu. Kau semakin cantik ya haha..” ucap seseorang memeluk hyeri, aku mendekat hanya untuk sekedar mendengar pembicaraan mereka.

“hai Eunhee, kau sudah kembali? Kenapa tidak memberitahuku? Kau sehat-sehat saja kan di jepang?” tanya hyeri

“iya, senang sekalinya. Akhirnya yang pertama kali menikah itu kamu dari kita bertiga” ucapnya. Uh? Bertiga?

“aku juga tidak menyangkanya, kukira chaeri yang duluan. Tapi..” hyeri tak melanjutkan katanya

“yaa.. sudah-sudah, jangan membuat chaeri sedih.. kau harus bahagia di hari istimewa mu ini. Kasian kan suamimu jika kau malah bersedih di hari istimewa haha.. ” yeoja bernama eunhee itu mencubit pipi hyeri.

Aku memperhatikan wajah gadis itu, tatapan lembutnya, tutur katanya dan derap langkahnya sangat persis dengan chaeri. Aku seperti menemukan bayangan chaeri dalam dirinya.

“ehem? Hyung kau melihat siapa sih sampai tidak berkedip seperti itu.. biar kutebak! Kau melihat eunhee ya?” ucap donghae tiba-tiba, mengagetkanku saja.

“dia siapa? Kau kenal?” ucapku menunjuk pada gadis itu.

“aigoo, hyung. Kau lupa? Itu sahabat chaeri dan hyeri. Kau juga pernah mengantarnya ke bandara saat dia pergi ke jepang kan bersama chaeri dan hyeri. Apa kau tidak ingat?” ujar donghae mengingatkan.

“jinjjayo?” tanyaku tidak percaya. “ah.. sudahlah! Ayo kita kesana” delik donghae mendorongku berjalan kearah gadis bernama Eunhee.

Kami bertiga (aku, donghae dan eunhee) sedikit berbincang ringan. Ada apa denganku? Seperti ada sesuatu yang mengatakan bahwa ialah pengganti Oh Chaeri. Ya! Chae-ya apa kau yang melakukannya diatas sana?

THE END

“ne, oppa aku yang melakukannya. Aku yakin sahabatku park eunhee adalah gadis terbaik untukmu..” aku Oh Chaeri

——————————–A.I.Y.S——————————

[KyuMin] Hard To Say Goodbye chapter 2

 

Tittle : Hard To Say Goodbye Chapter 2

Author : Lidya

Cast :

  • Kyuhyun
  • Sungmin
  • Heechul

Rating : T

Genre : Romance, Angst

Length : Chaptered

ada yang kangenn ama sayaa?? *jiaahh geer* hahah.. maaf yaa saya jarang muncul. soalnya kan saya udah kelas 3 *alasan* okehh, baiklah, daripada saya banyak ngemeng mending langsung baca ajaa.. dan saya rasa ini gak kerasa angstnya.. hahaha ~~ Continue reading

[Chapter 2] Story About My Marriage~

Tittle : Story About My Marriage  [Chap. 2]

Author : Dance Melody

Genre : Sad, Romance

Length : Chaptered

Cast : Lee Hyukjae .aka. Eunhyuk

Park/Lee Eunmin

Super Junior’s Member

POV : Semua POV diambil dari POV Eunmin 🙂

Disclaimer : The stories is MINE ! Eunhyuk too :p #diinjekJewels

NB : Di part ini aku gak jadi kasi NC, soalnya comment di part pertama gak ada yang nanggepin NB author pas ending -,-*cry*. Jadi part ini so pasti NO NC … paling cuma chu~ chu~ doang gak lebih M *Ceritanya author ngambek* -.- O.iya mianheyo kalo ada typo.

Don’t Forget R-C-L ok? Happy Reading :*

 

***

Sesaat setelah selesai membereskan dapur, eunhyuk menghampiriku kemudian mengajakku ketempat yang ia maksud.

 

“Oppa, kita mau kemana sih?”tanyaku ingin tahu.

 

“Kemana yah? Kau mau kemana?”jawabnya membuatku memutar bola mataku.”Nahh~ kita sudah sampai!!”ujarnya

 

***

 

Kau percaya, dimana aku sekarang? Sungguh, aku tak percaya dengan semua ini. Pantai ini, Villa ini, Pohon dan ayunan ini masih sama seperti dulu. Tempat ini dulu menjadi tempat terfavoritku saat masih tinggal bersama appa dan eomma juga ke-2 dongsaengku.

 

 

“Oppa…”aku menangis. Aku bukan menangis karena sedih, tapi aku menangis bahagia, aku terharu.

 

“Shhss…..Uljima. Aku tau kau rindu orang tuamu, mungkin ini sedikit bisa membayarnya? hm?”ucapnya

 

“Aku … Aku … oppa~~ gomawo, jeongmal gomawo!!”kataku, menghambur kepelukannya.

 

“Ini terakhir kalinya aku melihat mu menangis, setelah ini aku tak ingin lagi melihatmu begini. yaksok?”

 

“Ne, yaksokheyo.”balasku.

 

“Sekarang, kajja… kita masuk,”ujarnya lalu menggenggam tanganku.

 

Appa, eomma nae dongsaeng… aku disini, di villa kita. Tak ada yang berubah, boneka Raemin, mobil-mobilan Gomin masih di sini… masih di tempatnya… semuanya tak ada yang berubah. Jujur, rinduku sedikit berkurang mengunjungi villa ini lagi. Aku ingat appa membelikan villa ini untuk eomma saat anniversary pernikahan mereka. Aku masih tak menyangka eunhyuk membawaku ke tempat ini. Tapi, dari mana dia tahu dengan semua ini?

 

Aku menghapus air mataku, aku sudah berjanji padanya agar tak menangis lagi. Ne, aku tidak akan menangis lagi. Aku mencarinya di seluruh penjuru (?) villa ini tapi tak juga ku dapati dia. Sampai akhirnya aku melihanya duduk bersama dengan seorang anak perempuan, dia terlihat sangat senang dengan anak itu, eunhyuk kemudian berdiri dan menyuruh anak itu naik ke punggungnya. Sungguh, raut wajah hyuk saat ini sangat berbeda dari biasanya. Dia terlihat sangat senang bermain dengan anak itu, dia membawa anak itu berlari ke arah pantai.

 

Aku menghampirinya, nafasnya memburu setelah lari-larian dengan anak itu.

 

“Annyeong agi-ah ,”sapaku pada anak yang bermain dengan eunhyuk itu .

 

“Ne? Annyeong J ,”anak itu tersenyum padaku. Pandanganku beralih ke Eunhyuk yang masih ngos-ngosan . haha

 

“Agi-ah, siapa namamu? ,”tanyaku pada anak itu.

 

“Naneun, Shin Minrin imnida, kau bisa memanggilku Minrin ,”jawabnya. “Kau siapa?” tanya yeoja kecil itu. Eunhyuk kemudian memberiku tanda untuk duduk di sampingnya.

 

“Minrin-ah, dia Eunmin, kau boleh panggil dia eomma. Arachi? ,”aku mengerutkan alisku mendengar eunhyuk berkata seperti itu, ia lalu menatapku memberi isyarat seolah-olah berkata -terima-sajalah- aku mengangguk mengerti.

 

“Aigoo~ ternyata kau di sini ,”tegur seorang lelaki paruh baya, membuat kami bertiga melihat kearahnya. Ahhh~ ternyata Shin ahjussi. Dia adalah orang yang selalu menjaga villa ini, itulah mengapa villa keluargaku ini selalu tertata rapi bersih dan indah kelihatan (?) *author mulai ngantuk*

 

“Shin ahjussi ,”seruku lalu menghambur ke pelukannya.

 

“Aigo~ Aigo~ nona muda masih seperti dulu, tidak berubah sama sekali. Neomu yeppuda ,”ucapnya sambil mengusap puncak kepalaku.  “Mianhamnida, nona muda minrin sudah mengganggu tuan dan nona muda, sekali lagi mianhamnida ,”sesalnya setelah melepas pelukannya.

 

“Gwenchana ahjussi,  Minrin tidak menggangguku dengan hyuk oppa kok, tenang saja ,”balasku. “O.iya, apa minrin anak ahjussi? ,”tanyaku pada Shin ahjussi.

 

“Anii~ Anii~ dia cucuku, anak dari Jaerin. Setelah appa dan eommanya meninggal minrin jadi tinggal bersama ahjussi dan ahjumma ,”jelas Shin ahjussi, raut wajahnya terlihat sedih, aku tak menyangka secepat itu anak Shin ahjussi pergi. Bicara tentang eunhyuk, aku heran melihat tingkahnya. Jujur saja, seingatku eunhyuk tak begitu suka dengan anak-anak, menurutnya anak-anak itu menyebalkan dan susah diatur. Tapi, apa yang kulihat sekarang sangat berbeda dengan apa yang eomma mertuaku katakan, eunhyuk terlihat sangat menyenangi anak-anak, aku sendiri yang melihatnya.

 

“Minrin-ah, kajja kita masuk. Kau harus tidur sekarang, main dengan tuan dan nona muda bisa dilanjutkan nanti. Kajja~ ,”seru Shin ahjussi membuyarkan lamunanku tentang eunhyuk. Minrin menekuk wajahnya tanda tak senang karena harus tidur siang. Yeoja kecil ini, sungguh cantik seperti mendiang eommanya.

 

“Heii, Minrin-ah wajahmu tak usah kau tekuk seperti itu. Eomma janji setelah tidur siang kau bisa bermain dengan appa dan eomma lagi, arra? ,”ucapku meyakinkannya.

 

“Ne, eomma. Eomma jaga appa yah, aku mau tidur dulu. Annyeong!!”balasnya dengan raut wajah yang ceria. Tapi? Tunggu? Jaga appa? Eunhyuk? Haha dasar anak-anak.

 

“Tuan dan nona muda saya permisi dulu, annyeong ,”pamit ahjussi pada kami berdua.

 

Hening. Itulah kata yang dapat menggambarkan suasana sekarang ini. Dia diam akupun begitu, aku tak tahu harus berkata apa. Jujur, aku masih ‘sedikit’ canggung dengannya.

 

“Kenapa kau jadi canggung padaku? ,”tanyanya membuatku memiringkan kepalaku, tanda tak mengerti dengan pertanyaannya. “Ayolah, eunmin… aku tidak tahan seperti ini terus. Aku ingin semuanya baik-baik saja. Aku dan kau layaknya pasangan yang bahagia, tak bisakah seperti itu? ,”tuturnya.

 

“Aku juga tidak menginginkan keadaan seperti ini hyuk, aku benci seperti ini. Aku benci kau yang terus berbohong bahwa kau mencitaiku tulus sementara kau lebih mencintai Jina dari pada aku”balasku sambil terisak. “Tak cukupkah semua yang ku beri selama ini? Bodoh. Aku yang bodoh, aku bodoh semakin kau menyakitiku semakin aku mencintaimu. Tak pernahkah kau berfikir bahwa aku mencintaimu tulus, tak pernahkah kau berfikir aku jauh lebih mencintaimu. Jika kau bilang Jina lebih mencintaimu aku lebih. AKU LEBIH HYUK. AKU LEBIH MENCINTAIMU !!! ,” jelasku menumpahkan semua bebanku di depannya. Dia tertunduk, apa dia menyesal?

 

“Mianhamnida ,” ucapnya dengan suara parau. Tunggu? Apa dia menangis? Ia menatapku nanar, benar ia menangis.

 

“Monyet!! Siapa yang menyuruhmu menangis hah? Aku yang seharusnya menangis. Monyet bodoh. Monyet bodoh !! ,” jeritku sambil memukul-mukul dadanya.

 

“Mianheo, mianhe min-ah. Aku minta maaf. Tidak tahu harus berbuat apa lagi, apa yang harus aku lakukan agar luka di hatimu bisa terobati. Aku juga mencintaimu, tulus ,”jelasnya sambil mengusap puncak kepalaku.

 

“Saranghae! Saranghae! Saranghaeyo hyukkie!, nan jeongmal saranghaeyo ,”kataku masih terisak.

 

“Apa penjelasanku tempo waktu tidak bisa membuktikan kalau aku selama ini begini karena apa? Nado saranghaeyo Lee Eunmin-ah ,”ucapnya memelukku erat. “Aku yang bodoh, ternyata  selama ini ada orang yang begitu sayang padaku hmm?” godanya.

 

“Aishh~ jeongmal pabboya~~ ,”gerutu melepas paksa pelukannya.

 

“Ne, Aku bodoh. Monyet bodoh. Puas? ,”

 

“Tapi memang benar kan?? IQmu yang paling rendah diantara semua member Super Junior ,”ledekku.

 

“Ya! Aku juga tidak sebodoh itu. Buktinya, aku bisa membodohimu dengan ketampananku ,”ucapnya sambil berkacak pinggang.

 

“Mwoya?!!”jeritku tidak terima dengan pernyataannya barusan. Membodohiku? Tapi, memang benarkan? Hahaha.

 

“Euh? Yah… don’t angry babe ,”ucapnya menggodaku lagi.

 

“Ishh~ Oppayaa~~ ,” gerutuku kemudian memanyunkan bibirku.

 

“Kyeopta. Hug me once again ,”pintanya

 

“AN-DWE !!, ”tegasku.

 

“Mwoya? Aniyo~ Aniyo~ ini tidak benar, peluk aku ,”

 

“Boe~~ aku tidak mau. Sekali aku bilang tidak mau A-KU TI-DAK MA-U. Andweee~. Mehrong”ledekku. “Sudahlah oppa, aku capek. Aku mau mandi dulu. Annyeong ,”sambungku lalu berlari kecil kembali ke villa.

 

See? Lihat betapa gampangnya dia mengendalikan perasaanku. Dalam sekejap dia bisa membuatku berhenti marah. Hebat bukan? Jujur saja aku termasuk orang yang sulit berubah mood dengan cepat. Kalau aku marah seisi rumah akan jadi neraka. Haha. Aku jadi ingat appa betapa dia khawatir kalau aku mulai marah.

 

Eunhyuk, ya dialah namja yang bisa membuat hari-hariku berwarna. Sebetulnya jika tak ada dia semuanya tentu tak akan seperti ini.

 

Jina, aku tidak tahu apa yang sedang ia rencanakan sekarang. Tapi, jika memang dia mau merebut Eunhyuk dariku aku juga tidak akan segan-segan untuk melakukan hal yang tak pernah siapapun fikirkan sebelumnya. Eunhyuk suamiku, dia milikku. Dia siapa? Hanya seorang yeoja yang terkenal dan berusaha merebut suami orang. Benar bukan? Haha yeoja ularr~~

 

***

 

Aku berdiri di balkon kamar kami, menyesap secangkir teh hangat sambil memandangi kota seoul dari atas sini. Cuaca hari ini sangat bersahabat, walaupun aku menggunakan baju yang bisa dibilang sangat minim tapi aku tidak dingin sedikitpun.

 

Tak terasa setengah tahun berlalu, usia pernikahanku dengan Eunhyuk sudah setahun lebih. Rasanya baru kemarin aku menangis karena dia selingkuh haha mengingat itu aku jadi ingin tertawa. Tapi, yasudalah itu semua cuma masa lalu pernikahan kami.

 

Aku merasakan sepasang tangan memeluk perutku, itu Eunhyuk.

 

“Morning kiss? ,”pintanya tapi masih memelukku. Deru nafasnya menerpa tengkukku membuatku merinding. Aku berbalik menatapnya sebentar lalu mengecup bibirnya. “Gomawo yeobo ,”ucapnya kemudian memelukku erat. “Saranghaeyo ,”ucapnya lagi membuatku ingin berteriak tapi pelukannya menyiksaku. Aku tidak bisa bernafas.

 

“Na…dd…o…op..ppa…akk…uu…tid..dak..bis..a..ber..na..fas ,”ujarku seraya memukul punggungnya.

 

“Mwo? Mianheyo yeobo, gwenchanayo? ,”ia terlihat khawatir.

 

“Jangan memelukku seperti itu lagi, sesak tahu ,”aku memanyunkan bibirku yang kemudian menjadi santapannya (?). “Ish~ Oppa kau itu yadong sekali ,”ledekku.

 

“Mwoya? Tapi kau sukakan suami yadongmu ini? Kamu cinta kan? Iyakan? ,”ucapnya memamerkan deretan gigi mungilnya. Salah satu yang membuat aku tak bisa berpaling dari dia. Gummy smile 🙂

 

“Ne, Mr. Yadong ,”ledekku lagi kemudian meninggalkannya takut dia akan melakukan macam-macam padaku.

 

“Oke Mrs. Yadong, kau akan menerima balasannya ,”ia berlali kemudian menghimpitku, memperkecil jarak antara kami berdua.

 

“H..Hyuk… a..apa..yang…ma..u…k..au..la..lakukan hah?!”tanyaku. Aku gugup melihat wajahnya yang terlihat ehm sangat seduktif, seperti ingin menerkamku sekarang juga.

 

“Ahh.. Aku ingin melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan jagiya,”jawabnya dengan desahan yang membuat akal sehatku perlahan-lahan hilang. Siapapun tolong aku. T____T

 

“Op..pa? a..aku be..lum…si..ap,”ucapku terbata karena bibirnya sudah menyentuh tengkukku.

 

“Jagiya ahh… aku hanya ingin melakukan ini ,”ucapnya lagi. Sedetik kemudian ia mengegelitik perutku tiada henti. Itu membuatku tertawa terbahak-bahak saat jemari-jemari lentiknya aktif menggelitiku.

“Auww…haha…oppa…haha…ahh..sudah…aku..tidak..haha..tahan…geli..haha,”aku berusaha menjauhkan tangannya dari perutku. Entah sejak kapan kami sudah berada di kasur.

 

“Ini akibatnya kalau kau mengejek Mr. Yadong hahaha,”ucapnya dengan evil laugh

 

“Andwe~ Oppa…haha…aku… ahh..ha..ingin…pi…piss…haha..cep..pat.. hen..tik..kan..oppa haha”rajukku padanya.

 

“Shireo!! Bilang ampun dulu, baru aku hentikan ,”ucapnya

 

“Ne..haha…ahh…ne..ampun..haha..oppa..ahh…haha..ampun…oppa.. ahh..hahhh,”ia menghentikan gelitikan tangannya. “Hahhh… Kau puas mengerjaiku huh? Nappeun oppa hiks,”ucapku pura-pura menangis.

 

“Aigo~ don’t cry babe, c’mon tadi aku hanya bercanda, apa sakit huh? Yang mana? ,”tanya dengan nada khawatir.

 

“Buaahahahaha… mukamu haha oppa… haha oppa muka mu..hahha lucu sekali wajahmu itu,”aku terbahak, tak menyadari ia menatapku tajam. Aku berhenti tertawa setelah menyadarinya.

 

Eunhyuk mengeluarkan smirknya *author meleleh(?)* “Kau cari gara-gara lagi jagiy? Oke, kali ini aku akan bermain halus ,”ucapnya masih dengan smirk yang membuat setiap jewel meleleh.

 

Aku menelan ludahku entah apa lagi yang akan ia lakukan, “Op…pa…ja..jangan yang tadi la..lagi,”pintaku.

 

“Aniya~ tenang saja jagiy, kau tidak akan tersiksa hmm,”ucapnya lagi. Matanya menatap mataku tajam. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Ia makin memperkecil jarak antara kami, wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Entah, apa yang ada dalam fikiranku, aku menutup mataku. Sedetik kemudian, bibirnya sudah menyentuh bibirku. Ia menciumku, lama. Sampai aku dan hyuk mendengar bel berbunyi.

 

“Biar aku yang buka ,”ucap Eunhyuk kemudian mengecup keningku.

 

“N..Ne,”balasku terbata. Sungguh, aku yakin sekarang mukaku sudah semerah tomat. Aku mengambil cardiganku, kemudian menyusul hyuk ke lantai bawah.

 

“Dimana eunmin, hyuk-ah? ,”tanya seorang yang sangat ku kenali suaranya. Orang tua eunhyuk. Aku kembali ke dapur untuk mengambilkannya minuman.

 

“Annyeonghaseyo eomma, senang eomma datang kemari,”sapaku sambil menundukkan kepalaku lalu meletakkan minuman untuk mertuaku.

 

“Hmm…”gumamnya lalu menyesap minumannya. “Kapan kalian memberi appa dan eomma cucu huh?,”

 

“Mwo?,”seruku bersamaan dengan eunhyuk. “Eomma, eomma bisa bersabar sedikitkan? Kami sedang berusaha ,”rajuk eunhyuk. Sedang berusaha? Maksudnya?

 

“Mianhe eomma, aku mengecewakan eomma ,”sesalku.

 

“Gwenchana min-ah, eomma mengerti, eunmin sesalipun tak akan merubah semua, gwenchana,” katanya.

Sungguh, aku merasa sangat bersalah dengan semua ini. Aku tau eunhyuk sudah lama menginginkannya. Kau percaya? Dia bahkan sering mengigau menginginkan seorang anak dariku. Tapi, aku … aku belum siap… Apa yang harus ku lakukan?

-TBC-

Mianhamnida readersdeul… part 2 ini lamaaaaaaa~~ bgt lanjutannya ..
bosen kan? pasti iya ..

aku janji deh part 3 bakal cepet aku post ^^ ..

jgn lupa comment, thx udh mw baca 🙂