Cause you are my sun , the moon

Cause you are my sun , the moon

Tittle    : Cause you are my sun, the moon

Author : Ahn Myun Sa ( Tisha Aprita )

Long    : Chapter

Genre   : Romantic, relationship

Cast     :

Lee Jinki ( Onew ) Continue reading

Advertisements

[ONESHOOT] Wanna Be Your Love (Drabble)

Tittle : Wanna Be Your Love (Drabble from F.Cuz’s song)

Author : Key

Rating : PG

Genre : Romance

Cast :

– Yejun F.Cuz

– Ynez Amara Varadesya

———————————————————————————–

This is my confession,No more friend because, Wanna Be Your Man…

Yejun menyiapkan semua dengan baik. Buket bunga, kalung berliontin huruf Y&V, dan coklat kesukaan Vara. Sekali lagi dia menatap pantulan dirinya di cermin. Jas yg ia kenakan membalut sempurna tubuh kecilnya. Yejun pun tersenyum.

Ia mengendarai mobilnya dan berenti di epan rumah yeoja impiannya, Vara. Dengan sopan dia mengetuk pintu rumah itu. Vara membukakan pintu itu dan tersenyum, belum sempat Vara mempersilahkan masuk, Yejun sudah meluncurkan kata-kata yg sudah ia siapkan selama berhari-hari.

When I don’t see you, I miss you and my heart is uneasy…

“Vara, maaf menganggumu, aku senang bertemu denganmu lagi. Apakah kamu baik baik saja?”

Vara mengangguk dan tersenyum.

I don’t know why when I think about you,I laugh of nowhere, I think I falling for you…

“Selama satu tahun ini, aku selalu memikirkanmu. Entah mengapa. Aku sering mengingat masa-masa yang kita lalui bersama sebagai teman, sering membuatku tertawa…”

Vara tersenyum mendengar perkataan Yejun.

You only treated me as a good friend and it’s killing me…

“Selama ini, kita berteman. Well, memang Cuma teman biasa. Kamu memperlakukanku hanya sebagai teman, tentu itu normal. Tapi rasa itu seperti membunuhku sekarang…”

Vara mulai menebak kemana alur pembicaraan Yejun.

That’s not enough anymore, I don’t want this…

“Aku,,, ingin lebih dari sekedar teman. Aku sudah tidak mau kau perlakukan hanya sebagai teman…”

Vara mendengarkan dengan sabar.

I’m frustrated because you don’t know my feelings, I can’t take it anymore…

“Aku,,frustasi karna kau tidak mengetahui perasaanku. Aku tidak bisa menahan perasaan ini lagi…”

Vara tersenyum melihat wajah Yejun yg terlihat sungguh-sungguh.

Listen to me and don’t be shocked…

“Tolong dengarkan aku dan jangan terkejut…” Kata Yejun sambil sok memperhatikan buket bunga ditangannya.

Vara agak deg-degan, kira-kira apa yg akan Yejun, temannya sejak SD, katakan?

My Bestfriend, My Baby, I don’t want to be friend now, I want be your love…

“Kamu sahabatku, tapi sekarang aku tidak ingin berteman. Aku menginginkan cintamu…”

Dada Vara terasa sesak. Perasaan itu akhirnya diungkapkan juga oleh sahabat kecilnya…

My Bestfriend, My Lady, Don’t worry, I’m not going anywhere so take my hand…

“Jangan takut, aku tidak akan pergi kemana pun. Jadi mohon terimalah aku…”

Wajah Yejun memerah setelah mengucapkan hal ini.

Good friends can only go so far, So tomorrow let’s start begin our love…

“Pertemanan kita cukup sampai disini. Ayo kita mulai kisah cinta kita…”

Hati kecil Vara ingin menjerit untuk berkata ‘na do saranghae’.

I agonized if I should say this or not, I must have seemed strange…

“Aku sudah mempertimbangkan apakah aku harus mengatakan ini atau tidak. Aku pasti terlihat aneh sekarang…”

Yejun membuat ekspresi Aegyo sambil mengacak rambutnya sendiri.

I hesitated, but not anymore…

“Aku sempat ragu-ragu. Tapi sekarang aku sudah yakin…”

Yejun menggigit bibir bawahnya.

Now please accept my heart…

“Tolong terimalah hatiku…”

Vara tersenyum mendengar permohonan sahabatnya itu. Tapi hatinya sedikit ragu.

Don’t afraid, nothinghas changed…

“Jangan takut, tidak akan ada yang berubah…”

Kata Yejun engan mata berbinar penuh harap.

Sometimes like your friend, sometimeslike your lover, I will be by your side…

“Aku akan ada disampingmu. Seperti sahabatmu atau juga pacarmu…”

Vara masih belum sepenuhnya yakin…

Don’t worry, believe in me, we still a good friend

“Jangan khawatir, percayalah padaku, kumohon. Kita masih bersahabat…”

Pinta Yejun dengan sungguh-sungguh.

My Love, I only love you…

“Va..vara Saeng. Saranghae…” Ucap Yejun takut-takut.

Vara tersenyum bahagia.

With my confident, I’ll say…

“Would you be my yeojachingu?” Tembak Yejun sambil berlutut.

“Ne! ofcourse…” Jawab Vara.

Vara mengangguk sambil tertawa. Vara menerima buket bunga itu. Yejun membalikkan tubuh Vara dan menyematkan sesuatu di leher Vara. Sebuah kalung berliontinkan Y&V. Vara berbalik badan dan menghampiri Yejun yg sedari tdi masih berada didepan pintunya.

“Mau masuk atau mau ngajak aku jalan?” Tanya Vara sambil menggandeng tangan Yejun.

“Mmm, jalan-jalan aja yuk…” Kata Yejun sambil mengayunkan tangan mereka. Seperti sepasang sahabat yang sedang bercanda.

“Kalo jalan-jalan…” Gumam Vara.

“KAMU YG TRAKTIR!” Seru YeRa Couple serempak.

Mereka berdua tertawa dan bercanda seperti dulu. Tapi sekarang ada yang berbeda. Mereka bukan sekedar sahabat sekarang. Namun lebih dari itu…

Sometimes Friendship is good, But Love is good too…

~THE END~

——————————————————————-

Mian, FF ancur lg… T^T

I’m Losing My Inspiration… ^^ (Peace!)

Mohon saran dan bantuanya…

[ONESHOOT] It’s War (Drabble)

Tittle : It’s War (Drabble)

Author : Key

Rating :

Genre : Frienship, Romance, and Action.

Cast :

– Joon

– Thunder

– Wulan Nurul Izzati Ramli

——————————————————

Target : Wulan Nurul Izzati Ramli

Rumah : Kimchi Avenue No. 29 Block. 6A

Kantor : First Road No. 99

Joon mengantongi surat tersebut dan tersenyum dingin. Dia segera menyiapkan Remington 700 miliknya dan berangkat ke First Road No. 99. Baru saja ia mendapat tempat yg pas untuk menembak, wanita target itu keluar dri gedung pencakar langit itu tanpa perlindungan sama sekali.

“I got a very easy target…” Kata Joon meremehkan.

Baru saja mengunci target, Joon melihat seorang pengganggu. Seorang dengan jas hitam, mengendarai sedan hitam. Joon mengenali sedikit orang itu. Kalo tdk salah itu adalah seorang pembunuh bayaran bernama GO. Joon menggeram krn marah. GO akan menghancurkan misinya.

Joon berlari kebawah dan menghampiri targetnya. Dengan kasar Joon menarik tangan yeoja itu dan berlari. Mereka berlari agak jauh. GO mengejar. Pistol ditangan GO sudah siap untuk menembak. Joon berlari lebih kencang hingga mereka bersembunyi dibawah jembatan. Yeoja itu menggenggam tangan Joon.

DEGH! Joon merasakan sesuatu yg aneh dihatinya. Rasa ingin menyelasaikan misi berubah menjadi rasa… yg Joon sendiri susah menjelaskannya. Joon menatap wajah yeoja itu. Tiba-tiba GO mengetahui tempat persembunyian mereka.

Joon menarik yeoja itu agar lari bersamanya. GO melepaskan tembakan. Tembakan itu mengenai bahu yeoja itu, Wulan.

“Akhh! Appo…” Jerit Wulan.

“Sial! Tunggu disini!” Kata Joon sambil balik mengejar GO yg sudah menghilang entah kemana.

Joon akhirnya menemukan GO. Dengan keras Joon menonjok GO. GO memberi perlawanan. Tapi ternyata Joon lebih kuat. Joon menendang perut GO dan membuatnya tersungkur. Joon merebut pistol milik GO. Diliriknya GO, musuh terbesarnya, sedang tergeletak menahan sakit dan……

DORRR!

Pistol itu memuntahkan sebutir peluru yg langsung bersarang didada kiri GO. Dengan segera Joon membuang pistol itu dan berlari ketempat ia meninggalkan Wulan. Wulan sedang duduk sambil meremas bahunya, berusaha menghentikan pendarahan.

“Ikut aku…” Kata Joon sambil membopong Wulan. Joon membawanya kempat penimbunan rongsokan.

“Hei, kemana kita?” Tanya Wulan.

“Kerumahku” Jawab Joon dingin.

“Siapa namamu?” Tanya Wulan.

“Lee Joon” Jawab Joon. Masih dengan sikap seperti es.

Joon membawa Wulan kesebuah mobil van yg berada ditengah-tengah timbunan rongsok itu…

=====THUNDER POV=====

Baru saja aku mau memakan mie ramenku yg lezat ini. Tiba-tiba saja Joon Hyung datang sambil membawa yeoja yg bahunya terluka. Aduh, pasti misi2 bahaya kayak gini lg. Kapan sih dia mau tobat??

“Hyung, siapa dia?” Tanyaku.

“Wulan Nurul Izzati Ramli, anak dari Presiden Bank Dunia, harusnya jadi targetku. Puas? Sekarang bantu aku dulu.

Tidurkan dia disana” Perintah Hyungku dengan nada yg sangat tidak ramah.

“Ne, Hyung…” Kataku nurut.

Joon sibuk mencari kotak obat sedangkan aku membaringkan Wulan dikasur kecil milikku. Dasar Joon stress, target bukannya dibunuh malah dibawa pulang…

“Minggir. Sana, habiskan miemu diluar…” Perintahnya lagi. Dingin bgt nie orang…

Aku pun keluar membawa mieku dan kopiku. Huft~ diluar dingin bgt…

Dasar Hyung nggak punya hati. Dingin dan terkesan kejam. Tpi sebenarnya di lembut dan sangat perhatian. Hahaha~ aku tertawa sendiri mengingat suatu kejadian bertahun-tahun lalu. Saat umma dan appa masih ada. Saat umurku baru 6 tahun dan Joon Hyung 8 thn…

~FLASH BACK~

“Hyung, aku mau buah apel itu…” Kataku sambil menunjuk buah apel yg tergantung dipohonnya.

“Ambil saja sendiri…” Balas Joong dengan dingin dan kembali serius dengan pisau lipat barunya.

“Pohonnya terlalu tinggi…” Kataku memelas.

“Kau yg menginginkan, kau yg berusaha…” Balasnya dingin. Dasar gunung es!

Dengan kesal, aku berusaha memanjat pohon itu. Dia mengawasiku tanpa berpaling dari pekerjaannya. Yak! Bentar lagi sampaii… oh tidak, aku terpeleset dari dahan yg kupijak! Aishh… aku memang tdk pandai dalam hal-hal maskulin seperti ini…

Tubuh kecilku jatuh dari ketinggian 1,5 meter. Ini akan sangat sakit. Aku mulai menitikkan air mata. Loh? Kok nggak begitu sakit? Aku membuka mataku. Aku ada didalam gendongan Hyung-ku tersayang.

“Lemah, masa gitu aja nggak bisa!” Katanya dingin smbil menghempaskan aku ketanah.

“Auw… Appo…” Isakku. Joon Hyung langsung berjongkok dan mengacak rambutku.

“Hei, jadi cowok itu kuat dikit…” Katanya sambil tersenyum manis.

Untuk pertama kalinya selama 6 tahun aku melihatnya tersenyum manis seperti itu. Aku hanya mengangguk mendengar nasehatnya. Tiba-tiba dia memanjat pohon dengan kecepatan kilat dan turun lg. Dia memberikan apel itu kepadaku. Untuk sekali lg dia tersenyum manis kepadaku.

~FLASHBACK END~

Dan sampai sekarang aku belum pernah melihatnya tersenyum lagi…

Terdengat jeritan tertahan dari Wulan. Hyung pasti sedang mengeluarkan peluru itu.

=====JOON POV=====

“AKHH! Appo…” Jerit Wulan.

“Sttt, tenang…” Kataku. Wulan mengangguk.

Sekali lagi kucoba mengeluarkan peluru itu. Dan..

“YAAA! Appo…” Jerit Wulan makin keras.

Tapi aku berhasil. Peluru itu keluar dgn utuh. Syukurlah. Kalo tdk aku membutuhkan operasi untuk

mengeluarkannya. Wulan masih menangis kesakitan. Tanpa sadar kucium keningnya. Dia mulai agak tenang. Dan akhirnya membuka mata.

“Gamsahamnida…” Katanya sambil tersenyum. Cantik.

“Cheonmaneyo…” Balasku tanpa senyuman.

“Saranghae…” Bisiknya smbil kembali terpejam menahan sakit.

Aku tak menjawab. Hanya kulap keringat dikeningnya dengan menggunakan handuk kecil yg terlebih dahulu kurendam air hangat. Lelah, aku tertidur disofa sempit diseberang kasur itu.

-NEXT MORNING-

Aku terbangun dan mengecek keadaan Wulan. Hei, dia menangis dalam tidurnya! Aku menyiapkan air hangat dan handuk kecil untuk mengompres lukanya. Sakit memang, apalagi kalau tanpa obat bius seperti ini. Untungnya aku cukup sering mengobati diri sendiri sehingga aku bisa mengobatinya.

Hmm, aku butuh kehidupan yg lebih baik daripada ini. Bagaimana caranya? Akan kupikirkan nanti. Sekarang aku ingin merakit pistol buatanku sendiri. It’s gonna be great! Tpi sekarang aku akan mengompres luka Wulan. Saat aku meletakkan handuk hangat itu, dia terbangun.

“Good morning, Joon Oppa…” Sapa Wulan smbil tersenyum.

Omo~ dia memanggilku oppa! “Morning…” Jawabku dingin.

“Apa yg aku lakukan??” Tanya Wulan.

“Mengompres lukamu” Jawabku dingin.

“Kau seperti es…” Katanya.

“Trus aku harus kayak mana?” Tanyaku smbil menatap lurus kematanya.

Ia tak menghindari tatapanku. “Hangatlah sedikit. Jangan terlalu ketus…”

Aku mendengus. “Kenapa kau ingin aku ramah?”

“Mmmm, entahlah…” Jawabnya.

“Kalo belum ketemu jawabannya jangan harap aku ramah…” Kataku.

Dia mengembungkan pipinya, kecewa. “Padahal kau lumayan tampan…”

“Lumayan?” Tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku.

=====WULAN POV=====

“Lumayan?” Tanya Joon sambil menaikkan sebelah alisnya. Aegyo~

“Euh,, kenapa pertanyaanmu selalu membuatku merasa aneh?” Tanyaku.

Joon tersenyum tipis. Sangat sangat sangat tipis. Hanya sedikit kedutan dipipi yg mungkin tidak terlihat kecuali kau memperhatikan wajahnya lekat. Seperti yang aku lakukan. Huft~ DASAR GUNUNG ES!

“Istirahatlah…” Katanya smbil meninggalkanku.

“Kau mau kemana?” Tanyaku sambil menahan tangannya.

“Merakit senjata” Jawabnya. Jujur sekali =,=

Kenapa aku makin penasaran sama dia? Apakah aku jatuh cinta. Ya~ begitulah… Mungkin? What ever, deh. Bahuku nyeri, mau tidur aja! *nie orang ngoceh sendiri, kayak Ahda klo ngerjain soal metik*

=====JOON POV=====

Aku mulai melihat sketsa pistol yg akan kubuat. Ini adalah rancangan terhebat sepanjang sejarah karier Lee Joon!*lebay*Hehehehe~ aku tinggal menggabungkan meberapa bagian dan… selesai sudah! Sangking ingin sempurna, peluru dari pistol ini aku ukir.

Kulihat Thunder sedang mencari rongsok yg bisa di jual lg. Thunder, Wulan, aku berjanji akan memberi kehidupan yg lebih baik untuk kalian! Pegang janjiku! Sekarang, satnya aku mengecek keadaan Wulan. Aku masuk kedalam Van itu.

Wulan sedang tertidur. Aku membelai rambutnya dan tersenyum. Tiba-tiba Wulan membuka matanya. Sontak wajahku memerah…

“Ternyata kau bisa tersenyum…” Kata Wulan menahan tawa.

“Kau ini… Aishh~ trserahlah…” Kataku. Kuyakin wajahku sudah kayak kepiting rebus.

“Kenapa mukamu merah? Apa kamu menyukaiku?” Tanya Wulan.

“Apa kamu menyukaiku?” Tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Ya, sejak pertama bertemu. Waktu kau menyelamatkanku, waktu kau mengobati lukaku, waktu kau menjawab sapaanku pagi ini, kamu aja yg nggak sadar karna sikap dingin dan sok acuh padaku…” Jawab Wulan.

Wajahku memerah mendengar pengakuannya. Tiba-tiba dia menarik kaos yg kupakai dan mencium keningku. Stelah beberapa saat, Wulan melepas kecupannya itu dan mendorongku agar menjauh.

“Jangan terlalu dingin padaku…” Katanya dengan suara lembut.

“Okay, Chagi…~” Jawabku, berusaha untuk terlihat dingin tapi gagal. Wajahnya berubah cerah mendengar nickname-ku untuknya.

Untuk beberapa saat aku bercanda dengannya dan bisa tertawa lepas, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku tertawa didepan orang lain…

=====THUNDER POV=====

Aku mengintip semua adegan tadi. Joon hyung tertawa! Entah mengapa hatiku ikut senang melihatnya bgitu. Aku yg sudah lebih dari 15 tahun hidup bersamanya blom pernah liat tertawa lepas sperti td. Wulan membawa keajaiban untukku dan Joon.

=====JOON POV=====

Target : Keluarga Choi Siwon

Tempat target : Villa Cooperhill

Upah : 100.000.000 won

Aku menguji pistolku sekarang. Aku menembak sekali. Dengan mulus pelurunya berbelok ke benda yg ada dibelakang target. Pistolku berhasil…

Aku masuk kedalam Van dan meninggalkan surat untuk Thunder.

Thunder,

Aku akan pergi lama. Selama aku pergi, jaga Wulan. Sampai kau menyakitinya, WATCH OUT!

Joon

Aku pun menyelinap pergi dari Van itu sementara 2 orang yg paling kucintai sedang tertidur lelap disana.

NARRATOR BY AUTHOR :

1 minggu setelah Joon pergi. Thunder yg menggantikan posisi Joon mengurus Wulan. Selama itu juga rasa cinta Wulan perlahan-lahan pindah dr hati Joon ke hati Thunder. Dan entah mengapa Thunder menerima perasaan dari Wulan. Padahal dia sudah mengemban amanat dari Joon.

NARRATOR END

=====WULAN POV=====

Aku sedang duduk disofa bersama Thunder. Seperti biasa, bercanda sambil minum cappucino favorit kita berdua. Aku merasa bersalah kenapa rasa cintaku ini berpindah tempat. Aku merasa mempermainkan Joon. Apa aku salah??

Tiba-tiba saja Joon masuk dan melihat Thunder sedang menggenggam tanganku. Aku merasa tidak enak. Tapi Thunder enggan melepas genggaman itu. Joon menarik lenganku, aku melepaskan cengkraman Joon.Sontak Joon menarikku keluar dari Van dengan setengah berlari. Thunder mengejar. Dia menarikku dari belakang dan berhasil melepas cengkraman Joon.

=====JOON POV=====

BERANI SEKALI DONGSAENG-KU YG SELAMA INI KUPERCAYA MENGAMBIL SATU-SATUNYA YEOJA YG PERNAH KUCINTAI! Padahal selama ini aku sedang berusaha mamberikan yg terbaik untuk mereka! Oh god, what can I do now? It’s War!

Aku menonjok Thunder.

Apa mungkin Wulan memang lebih bahagia dengan Thunder?

Thunder membalasku dengan satu tonjokan keras diperut.

Mungkin memang takdir mereka untuk bahagia berdua?

Aku menendang Thunder sampai dia terpelanting kebelakang.

Yah, memang aku harus mengalah kepada dongsaeng-ku ini. Dia memiliki lebih banyak kesempatan untuk hidup normal… bersama Wulan, cinta pertama dan terakhirku.

Aku mengacungkan pistol rakitanku.

Wulan berdiri melindungi Thunder. Betul perkiraanku. Mereka saling mencintai. Sebaiknya aku jangan mengganggu. Lebih baik aku pergi saja. Dari dunia ini.

Aku menarik pelatuk pistol.

Aku berusaha mempengaruhi gerak peluru itu dengan pikiranku. Berhasil. Peluru itu berbalik arah kepadaku. Tanpa kusadari air mataku menetes. Lelaki tak boleh menangis, seperti yg dulu kukatakan pada Thunder saat umurnya masih 6 tahun. Peluru itu bersarang di leherku. Aku tersenyum dingin.

=====AUTHOR POV=====

Thunder menyadari apa yg terjadi. Dia segera menghampiri hyung-nya tersayang dan merengkuh kepala Joon ke pangkuannya. Darah segar mengalir deras dari ;lubang yg dihasilkan peluru itu. Wulan ikut bersimpuh disamping orang yg sempat mengambil hatinya itu.

“Thu..Thunder.. kau jadi orang yg baik, ya? Jangan jdi orang jahat yg jadi pembunuh bayaran kayak hyung-mu ini…” Kata Joon tersengal-sengal.

“Hyung, kau pasti selamat! Dan kau bukan orang jahat, ayo bertahan…” Rengek Thunder seperti anak kecil.

“Laki-laki harus kuat, jangan merengek. Kau.. harus.. ja..ga.. Wulan” Balas Joon.

Perlahan, Joon mengalihkan pandangannya ke Wulan.

“Cha..gi, go..ma..wo..yeo. Kh..kau.. su..dah..me..me…ngajariku ..apa..itu..cinta..dan..ak..khu..mau .. kmu ..ba..ha..gia.. sa..ma.. Thunder. Kh..kalo.. d..ia ku..ra..ng a..jar, ton..jok.. saja…” Nafas Joon semakin pendek.

“Oppa, dalam keadaan seperti ini kamu masih bercanda!” Kata Wulan dengan derai airmata.

Joon mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. 2 tiket pesawat ke paris dan cek sebesar 90.000.000 won. Thunder tak tahan lagi. Airmatanya jatuh dengan deras.

“Ka..lian per..gi ke..sa..na.., Thunder, tun..juk..kan ba..kat.. mena..ri..mu pa..da.. du..nia. ak..u mau nan..ti, d..dari a..atas .sa..na aku.. melihatmu…. Nge-dance…diatas…..panggung….besar…” Lanjut Joon.

Joon mengambil jatah terakhirnya untuk bernafas. Joon bernafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dibibir ranumnya terukir sebuah senyum termanis milik Joon. Senyum termanis yg Thunder dan Wulan tidak pernah melihatnya. Senyuman terakhir Joon.

Derai airmata dan raungan putus asa milik Thunder terdengar memilukan. Ia menyesal atas kecerobohannya mencintai cinta pertama hyung-nya. Dan ia terharu karna baru tahu kalau hyung-nya selalu berusaha memberi yg terbaik untuknya. Namun semua sudah terlambat…

Hyung, naega jeongmal baboya! Mianhae, Hyung… Jerit Thunder dalam hati.

“Gwenchana…”

Sebuah suara bisikan terdengar oleh Thunder tapi langsung menghilang bersama suara deru angin yang membekukan di musin dingin ini. The War Is Over…

~THE END~

———————————————–

Garing pisan euy! Maap ni author blom profesional…^^

Tpi anggap aja ini comeback stage & mungkin goodbye stage karna author harus balik ke boarding school 4 hari lagi… ^^

Anneyeong!

[CHAPTER] The Way You Love Me – PART 1

Title : The Way You Love Me (1st chapter)

Author : #euntastic#

Genre : Romance, Friendship

Cast :

-Kim Jong Hyun SHINee as Jonghyun

-Kim Jong Woon SJ as Yesung

-Lee Hyuk Jae SJ as Eunhyuk

-Lee Seong Min SJ as Sungmin

-Park Jung Soo SJ as Leeteuk

-Shinta Marcelline as Park Min Young

-Novia Nurfitriana as Choi Rin Rin

-admin _SooKyung_ as Park Soo Kyung

-Genieverre Sasja as Choi Soo Yeon

-Kimiko Novi as Kang Hyun Ri

Other cast : SMFamily

Annyeong! FF ini didedikasikan untuk semua SMTown lovers. Kenapa SM? Karena memang fandom utama saya dari SMent. Memang di FF ini tidak semua dari SM dimuat, hanya Super Junior dan SHINee saja yang menjadi main cast, itu karena ini dibuat berdasarkan polling dan request. Lagipula kalau semua anggota SMent jadi cast, entahlah. Lebih dari 30 orang dong O.o

For reader, RCL please, 3 komen terbaik akan jadi cast di FF selanjutnya. Jadi kalau comment sekalian tulis namkor + bias + sifat kalian ya. Silent reader sebenarnya saya nggak mengharapkan tapi ya sudahlah, pokoknya didoakan yang RCL suatu saat bisa ketemu atau nonton konser biasnya (AMINNNNN!!!) Semoga suka, gomawo ^^

———–

Park Min Young dan Lee Hyuk Jae adalah sahabat sejak kecil, mereka berkenalan di TK dan sejak itu mereka menjadi dekat sampai sekarang. Beranjak SMA, Min memiliki 4 orang sahabat perempuan. Choi Rin Rin, salah satu murid terpopuler di sekolah, adalah pacar Lee Hyuk Jae. Mereka jadian di awal semester 2 kelas 2. Park Soo Kyung, anak yang jahil dan cukup populer di kalangan laki-laki. Ia mood maker di ‘geng’ mereka. Kang Hyun Ri, dikenal sebagai yang paling alim dan pendiam. Tetapi justru seorang ‘pawang’ dibutuhkan di gerombolan ‘hewan buas’ kan? XD Terakhir Choi Soo Yeon. Ia adalah salah seorang jagoan. Belum pernah pacaran karena mungkin pria tak berani padanya. Park Min Young sendiri sekarang berpacaran dengan kakak kelasnya bernama Lee Dong Hae. Donghae adalah teman satu klub dance Lee Hyuk Jae.

“Chagi-ah, aaaam!” Eunhyuk menyuapkan kimbab pada kekasihnya.

Choi Rin Rin atau yang biasa dipanggil Rin membuka mulutnya, menerima suapan dari Eunhyuk dengan bahagia. “Mashita!”

“Geez, belepotan tuh. Rin-ah, kau di depan namjachingu-mu kok masih jorok begitu!” kata Soo Yeon.

“Sudahlah, Soo Yeon. Biarkan saja. Sampai matipun kita tak bisa mengubah sifat joroknya.” Soo Kyung tertawa kecil diikuti yang lainnya.

“Aigoo, Donghae oppa ke mana ya?” ujar Min Young.

Hyun Ri melihat jam tangannya. “Sebentar lagi bel masuk. Masa iya dia belum keluar dari kelasnya. Apa kau harus selalu bertemu pacarmu? Nanti saja bertemunya pulang sekolah.”

“Eh? Bukan. Aku ingin meminjam kalkulator. Aku lupa bawa.”

“Yaaa, tadi kau menertawai aku jorok kau sendiri selalu pelupa begitu,” ejek Rin. “Tapi serius tidak bawa? Berani benar kau pada Victoria-ssi!”

“Tidak bawa kalkulator saja panik, payah kau! Pakai saja milikku.” sahut Soo Yeon. “Tapi, sepuluh ribu won dulu!”

“Dasar yeoja kasar, pelit. Pantas tidak ada yang naksir padamu.” Soo Kyung menyikut Soo Yeon pelan lalu segera meminta maaf.

“Kau mau pakai milikku, Min? Sudah kuduga kau pasti lupa, makanya aku bawa 2. Eotte?” tawar Eunhyuk.

Min mengangguk senang. “Gomawo, Hyuk!”

“Kajja, ke kelasku!” Eunhyuk menggandeng tangan Min tanpa berpamitan pada yang lain.

“Jangan dihiraukan. Mereka sahabat sejak kecil, Rin.” Hyun Ri menepuk pundak Rin yang terlihat kaget.

***

“Annyeonghaseyo!”

“Annyeong, Vic seongsaengnim!” sapa anak-anak di kelas 2-3.

“Hari ini kita kedatangan murid baru. Dia berasal dari Chunanh. Mari masuk!”

Seorang namja berjalan memasuki kelas, membawa sebuah ransel yang tak terlalu besar. Rambutnya sedikit berkibar tertiup kipas angin (bayangin adegan Bella-Edward yang rambutnya berkibar di Twilight..kekeke)

“HyunRi-ah! Omeo! Neomu challadayo!” Soo Kyung memegang pundak Hyun Ri yang duduk di hadapannya.

“Annyeong.” namja itu menyapa.

“Suaranya, aigoo..” Soo Kyung semakin terkagum.

“Ne, suaranya hangat sekali ya,” kata Hyun Ri menyetujui.

“Siap-siap, Soo Kyung-ah. Hanya bangku sebelahmu yang kosong,” goda Min sedikit berbisik.

Hyun Ri menelan ludah. Sepertinya benar namja itu akan duduk di sebelah Soo Kyung, batin Hyun Ri.

“Joneun Kim Jong Woon ibnida. Panggil saja aku Yesung. Oh iya, golongan darahku AB lho.” ia tersenyum.

“AB! Jangan-jangan dia jahil sepertimu, Soo Kyung!” tambah Soo Yeon.

“Soo Yeon, diam!” kata Mrs. Vic.

“Ahjumma cerewet.” Soo Yeon mencibir.

“Baiklah Yesung. Kau silakan duduk di.. Wah, bangku kosongnya hanya 1. Ya sudah kau duduk di situ saja. Soo Kyung, Soo Yeon, Rin, Min. Jangan kalian pengaruhi dia jadi ramai. Berhati-hatilah dengan gerombolan yeoja itu, Yesung.”

“Mwoya, sumpah! I hate that teacher!” sebal Soo Yeon.

Rin tersenyum geli. “Sejak kapan kau jadi bisa bahasa Inggris.”

“Annyeong. Yesung imnida,” kata Yesung begitu ia duduk di sebelah Soo Kyung. “Kau?”

“Err, naneun..”

“Tak usah malu-malu, SooKyung. Kalau naksir langsung bilang saja!” kata Soo Yeon.

“Diamlah, Soo Yeon!” Soo Kyung mencibir. “Mianhae, Yesung. Orang itu gila. Naneun Park Soo Kyung imnida. Aku juga dari Chunanh, tapi aku malah baru sekali ke sana.”

“Emang iya kau dari Chunanh? Atau kau hanya caper saja pada Yesung?” goda Min.

Yesung tertawa kecil. “Eh, ngomong-ngomong kau cantik, Soo Kyung.”

“M, mwo?”

“Jeongmal. Sejak pertama melihatmu.. Rasanya jantungku berdebar cepat sekali. Baru sekali ini aku mengalami cinta pada pandangan pertama. Aku bersyukur bisa duduk di sebelahmu. Kuharap kita bisa menjadi dekat ya, Soo Kyung-ah,” kata Yesung.

Sssssshhhhh…

Muka Soo Kyung semakin memerah. Memang ini bukan pertama kalinya ia dirayu oleh namja. Tetapi karena sifat jahil dan kocaknya, ia biasa menganggap segala hal sebagai candaan. Namun kali ini berbeda. Hanya dengan memandang matanya saja Soo Kyung sudah merasa ada sesuatu pada diri namja ini yang menarik hatin Soo Kyung.

“Aku bercanda kok.” Tiba-tiba Yesung tertawa.

“Ye-Sung-ya!!!” Soo Kyung menendang kaki Yesung kesal.

“Kau lucu kalau malu begitu, hahaha.”

“Menyebalkan!” kata Soo Kyung. “Eh, kyaaaa!! Tutup resleting celanamu! Kau mau pamer ya! Cepat tutup!”

Sontak Yesung yang panik segera berdiri dan memegang celananya, seisi kelas menoleh padanya.

“Yesung, ada apa?” tanya Mrs. Vic.

“A, ani, songsaenim. Mianhae,” jawab Yesung. Ia baru saja sadar bahwa dirinya dikerjai oleh Soo Kyung karena celananya tidak terbuka sedikitpun. “Yak!”

“Kau lucu kalau panik begitu, hahaha,” kata Soo Kyung santai.

“Aissh, jinjja kau ini. Tunggu saja ya. Aku sudah pasti akan membalasmu.”

Soo Kyung menjulurkan lidahnya. “Kau kira aku takut? Sudah lama aku mencari rival sepertimu, Jong Woon-ah. Aku ini Ratu Jahil kelas 3-3,” pamer Soo Kyung.

“Ratu? Kau butuh pendamping tidak? Aku ingin jadi pendampingmu,” ucap Yesung.

“Pendamping apa?”

“Pendampingmu.” Yesung mendekatkan wajahnya pada Soo Kyung hingga kembali wajah Soo Kyung bersemu. Lalu tangan Yesung mendekati tangan Soo Kyung dan…. “Aku pinjam bolpoin ya.”

“Neo!” protes Soo Kyung.

“Hahahahahahaha, jadi aku sekarang akan mendampingimu menjadi Raja Jahil 3-3 ya,” tawa Yesung.

Sambil tertawa kecil, Soo Kyung memandang penuh remeh. “Mimpi dulu kalau mau mengalahkanku!”

“Baru saja dibilang hati-hati ternyata kau sudah ketularan, Kim Jong Woon,” sindir Mrs. Vic.

“Eh? Mianhae, songsaengnim. Selanjutnya saya akan mendengarkan perkataan anda dengan seksama. Saya yakin penjelasan anda mudah dimengerti karena itu saya tadi sedikit melenceng. Memang saya yang salah. Jeosonghamnida.” Yesung meminta maaf.

Mrs. Vic mengangguk. “Gwenchana. Mari lanjutkan pelajaran.”

“Hebat sekali kau bisa menaklukkannya!” puji Soo Kyung.

“Tentu saja. Kau ini. Aku itu kan namja yang terlahir dengan suara menghipnotis dan wajah tampan. Jelas saja semua wanita takluk,” jawab Yesung ngasal.

“Tapi sayang kepalamu besar.” Soo Kyung tertawa.

“Biar saja. Tapi kau suka kan?” goda Yesung.

Jadi mereka sudah dekat, pikir Hyun Ri saat ia menoleh ke belakang.

***

Pulang sekolah..

“Hari ini mau ke mana kita?” tanya Hyun Ri.

“Ke rumah Min yuk, kita nonton DVD konser SMTown New York,” ajak Soo Kyung. “Kau kemarin download kan, Min?”

Min mengangguk. “Boleh. Donghae oppa, kau ikut ke rumahku kan?”

“Aigo. Mianhae, Min-ah. Mendadak sekali. Aku ada latihan dance. Kau tidak latihan, Eunhyuk? Minggu depan kan kita mengisi acara di Inha University,” sahut Donghae.

“Anio, hyung. Pundakku masih sakit,” jawab Eunhyuk.

“Ah kau sih tidak latihan juga sudah jago, chagi!” Rin mencubit kedua pipi Eunhyuk.

“Ya sudah, aku permisi dulu, ya. Mianhae tidak bisa ikut. Bersenang-senanglah yeorobeun. Kau terutama, yeobo.” Donghae mengacak-acak rambut Min.

Mereka berenam minus Donghae lalu berjalan ke arah halaman parkir sekolah.

“Heh!! Tabrak-tabrak sembarangan!!” tiba-tiba Soo Yeon berteriak.

Seorang namja menabraknya, tidak sengaja mungkin. Tetapi yah kita semua tahu Soo Yeon.

“Mi, mianhae..” kata namja itu.

“Aigo! Aku tak mau ikut-ikut, Jjong! Dia yeoja buas.” Seorang yeoja yang tadi berjalan dengan namja itu segera berlari menghindar.

“Cih, temanmu pengecut. Dam kau. Beraninya sama perempuan! Maju sini!” bentak Soo Yeon.

“Sudahlah, Soo Yeon-ah, dia sudah minta maaf,” cegah Hyun Ri.

“Ah, dia kan Kim Jong Hyun. Teman sekelasmu bukan, Eunhyukkie?” kata Min.

“Dia anak terkuper di kelas, Min-ah,” jawab Eunhyuk.

“Mian. Aku sungguh tidak sengaja..” Jonghyun menunduk, pura-pura tidak mendengar perkataan Eunhyuk barusan.

Soo Kyung berusaha menengahi. “Soo Yeon-ah, biarkan saja. Kata Eunhyuk dia culun kan? Ya sudah. Rugi kau berurusan dengan anak seperti itu. Iya kalau Senior Siwon yang setampan dewa tidak masalah.”

“Justru karena dia culun! Dikira aku mau mengalah pada anak culun?” Soo Yeon maju selangkah.

“Cukup, Yeon-ah. Ayo kita pergi!” Rin menarik tangan Soo Yeon ke parkiran.

***

“Omo! Aku lupa Min Hyuk tidak bawa kunci rumah. Aku harus segera pulang!” kata Min setelah membaca SMS dari adiknya, Park Min Hyuk. “Soo Yeon-ah, kau bisa ngebut kan? Kalau begitu aku bareng denganmu saja bisa?”

Soo Yeon mengangguk. “Kajja! Ya sudah, yang lain, kita bertemu di rumah Min ya. Oh… Min! Bensinku habis!”

“Eh? Jinjjayo?” Min terlihat panik.

“Ya sudah kau denganku saja, Min-ah. Gwenchana, chagi?” sahut Eunhyuk.

“Ne. Lagipula rumahku dekat dengan Hyun Ri. Biar nanti aku sekalian pulang dengan Hyun Ri saja,” jawab Rin.

“Baiklah. Annyeonghi, chagi, yeorobeun,” pamit Eunhyuk diikuti Min yang melambai.

Motor biru Eunhyuk disetater. Min segera naik ke boncengan dan seperti sudah kebiasaan, tangan Eunhyuk menarik tangan Min untuk memeluk pinggangnya.

“Eh, chingudeul. Appa SMS nih katanya ia menjemputku. Eottokhae? Kalian ke sana saja aku tidak ikut ya?” kata Soo Kyung.

“Eh? Kalau begitu tidak usah saja sekalian. Tidak seru kalau tak ada kau,” kata Soo Yeon. “Baiklah kita langsung pulang saja. Rin-ah, kau pulang dengan Hyun Ri, ya?”

“Mianhae ya. Aku pamit dulu. Annyeong.” Soo Kyung tersenyum.

Semuanya sudah pergi, meninggalkan Soo Yeon yang sendirian di tempat parkir. Tampaknya sekolah sudah cukup sepi.

“Ahhhhh, namja tadi cakep sekali sih. Kenapa aku marah pada namja setampan itu!” Soo Yeon membanting tasnya ke tanah, tidak jadi mengendarai motornya.

“Soo Yeon-ssi?” sapa seseorang.

Sesuai dugaan. Benar sekali, yang menyapa Soo Yeon adalahh..

“Kim Jong Hyun?” kaget Soo Yeon. “Mau apa kau?!”

“Anio. Aku hanya ingin membantumu. Maaf tadi aku sedikit mencuri dengar pembicaraan. Motormu kehabisan bensin ya?” tanya Jonghyun.

“Kurang ajar! Lancang sekali kau mencuri dengar pembi..” tiba-tiba Soo Yeon terdiam. Merasakan sesuatu yang sebelumnya jarang dirasakannya. Debaran jantungnya semakin kencang. Hatinya mendadak gelisah entah mengapa.

“Kalau kau tak keberatan, kita dorong motormu ke pom bensin terdekat. Dibilang dekat tidak juga sih. Mungkin sekitar 1 km. Kau kuat tidak? Kalau tidak kau tunggu di sini saja biar kubelikan bensin,” kata Jonghyun ramah.

“Yaa! Tentu saja aku kuat! Jangan meremehkan seorang Choi Soo Yeon, ya!”

Jonghyun tertawa. Tak diduga suaranya merdu juga. “Ne, arasseo. Mianhae, Soo Yeon-ssi.”

“Jangan panggil aku Soo Yeon-ssi. Sopan sekali sih.” Soo Yeon bergidik. Jonghyun mengambil alih motornya dan mereka berjalan bersama menuntun motor Soo Yeon. “Pantas saja kau dibilang kuper. Gayamu culun sekali. Bicara terlalu sopan. Pakai kacamata segala. Aigo.”

“Salah kah?” tanya Jonghyun dengan senyum.

Sekali lagi debaran jantung Soo Yeon semakin cepat.

“Temanmu, Kang Hyun Ri, bukankah dia juga sepertiku? Tetapi kau berteman dekat dengannya,” lanjut Jonghyun.

“Kau mengenal Hyun Ri?”

“Tidak juga. Aku hanya mengaguminya dari jauh saja, sama seperti kau mengagumi Minho dan Yunho sunbae.”

“Kau..”

“Aku cukup sering memperhatikan kalian. Kalian yeoja yang menarik.” Jonghyun membuat pipi Soo Yeon memanas. “Min yang baik hati dan sedikit kekanakan. Rin memang terkesan cuek, tapi aku tahu dia sangat perhatian. Soo Kyung paling feminin di antara kalian, supel. Hyun Ri yang rendah hati dan pendiam. Dan Soo Yeon si jagoan sekolah, diam-diam sering memperhatikan Minho dan Yunho hyung di kelas menari.”

Mau tak mau Soo Yeon cukup terpana dengan analisis Jonghyun yang tidak meleset. Bahkan Soo Yeon tak mengira Jonghyun tahu ia ngefans dengan 2 namja itu. “Tapi kau bilang tadi, kau mengagumi Hyun Ri?”

“Ne,” jawab Jonghyun. “Maukah kau membantuku?”

“Membantumu mendapatkan Hyun Ri? Anio! Ani! Kalau bantuanmu mendorong motor ini hanya untuk itu kau pergi saja! Aku tak butuh bantuanmu!” Tak disangka Soo Yeon langsung terbakar cemburu. “Tak usah menjawab apa-apa, pergilah kau!!!!”

***

Sudah setengah jam Min dan Eunhyuk menunggu di depan rumah. Sampai akhirnya Eunhyuk memutuskan untuk menelepon Rin.

“Mereka tidak jadi datang, Min-ah,” kata Eunhyuk.

“Eh? Kok tiba-tiba sekali. Ya sudahlah. Kau mau pulang saja, Hyukkie? Atau bagaimana?” tanya Min Young.

“Main saja yuk. Sejak kelas 2 aku sudah jarang main denganmu dan Minhyuk. Main.. Kartu saja. Seperti dulu kan kita suka bermain kartu dan monopoli bertiga. Boleh, Minnie?” tanya Eunhyuk balik.

Min memukul pelan lengan Eunhyuk. “Jangan mulai memanggil begitu deh. Itu kan nama kecilku. Sekarang kita sudah SMA.”

“Kan lucu, sesuai tampangmu yang imut-imut.” Eunhyuk tertawa.

“Apa deh imut-imut. Kalau mau menyindir langsung saja bilang amit-amit. Dasar Myeolchi!” jawab Min. Ia menjulurkan lidahnya.

“ah, tidak, kau imut kok. Kalau kau amit-amit Donghae hyung mana mungkin mau denganmu!” tawa Eunhyuk.

“Kyaaak, aku jadi terpesona,” ujar Min dengan tawa.

Sambil tersenyum geli melihat sahabatnya ini, Eunhyuk tiba-tiba menepuk dahinya. “Min. Aku lupa. Kalkulatorku mana? Itu kalkulator noona Sora.”

“Wah, milik Sora onnie? Hahaha. Bisa-bisanya kau mengambilnya. Sebentar.” Min membuka tas ranselnya, mencari kalkulator berwarna biru di tumpukan buku. “Ja. Ini dia. Gomawo! Aku tak tahu apa jadinya aku kalau tadi kau tak meminjamiku.”

“Tak masalah. Sahabat saling membantu bukan?” tanggap Eunhyuk.

“Yeongwonhi!” jawab Min diiringi senyuman. “Jadi kau mau main? Aku lihat dulu deh Minhyuk tidur atau tidak.”

“Gidarida, Min-ah.”

Lagi-lagi Min tertawa. “Seperti syair lagu Bonamana saja. Changkanman.” Ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah. Sial, tali sepatunya lepas sehingga tak sengaja Min menginjak tali sepatunya sendiri..

“Min-ah!” seru Eunhyuk yang segera menopang tubuh Min.

“Aigo. Aku ceroboh. Maafkan aku, Eunhyuk.”

“Dasar kau. Sejak kecil selalu saja merepotkanku. Hati-hatilah sedikit jadi orang, aku kan tidak bisa harus selalu menjagamu.”

“Kan aku sudah minta maaf. Jadi bisa lepaskan aku?” tanya Min mengingat dirinya masih berada di dekapan Eunhyuk.

“Tentu. Tentu. Errr, maaf aku keasikan.”

“Yaa, dasar kau otak yadong! Kasihan Rin harus pacaran dengan namja mesum sepertimu,” canda Min.

“Kasihan Donghae hyung harus pacaran dengan yeoja cantik sepertimu!” balas Eunhyuk.

“Iisssh, tidak lucu,” ucap Min. Tetapi tetap saja toh ia tertawa juga.

***

Esok harinya di sekolah, jam istirahat. Tidak seperti biasanya Hyun Ri memilih untuk menghabiskan waktu di perpustakaan. Memang sih ia hobi membaca. Tetapi biasanya ia ada bersama teman-temannya di kantin.

“Mmmm.. Psikologi.. Psikologi..” Hyun Ri mencari-cari rak buku psikologi.

“Buku psikologi ada di belakang, keempat dari kanan,” kata seseorang.

“Ah. Gomawo!” jawab Hyun Ri dengan disertai bungkukan.

Namja itu tersenyum lembut. “Cheonmaneyo. Ya sudah aku tinggal dulu, ya.”

“Apakah, apakah kau Park Jung Soo oppa?” tanya Hyun Ri.

“Benar. Tetapi cukup panggil aku Leeteuk saja. Kau Kang Hyun Ri bukan?” tanya Leeteuk balik. “Tumben sekali kau ke perpustakaan. Padahal biasanya kau pasti ada di kantin dengan teman-temanmu itu. Ada tugas?”

Hyun Ri menggeleng. “Aku memang suka membaca. Oppa sendiri? Apakah mempersiapkan ujian sekolah?”

“Hahahaha. Bagaimana kau tahu. Malu mengakuinya, tetapi benar.”

“Malu? Malu kenapa oppa?” kata Hyun Ri, matanya membulat.

“Kau tak menertawaiku? Aku tak pernah bercerita pada orang-orang karena kurasa hal itu memalukan. Ujian sekolah masih 6 bulan lagi tetapi aku sudah mempersiapkannya. Aku ingin menjadi dokter.” Leeteuk tertawa kecil.

“Jinjja? Wah, cita-cita yang mulia sekali. Tetapi tidak heran. Oppa kan ranking satu di angkatan oppa bukan?”

“Ternyata kau mengenalku, Hyun Ri-ah. Kau sendiri untuk apa mencari buku psikologi?”

Kali ini Hyun Ri yang tertawa kecil. “Aku ingin menjadi seorang psikolog.”

“Keren. Kau masih kelas 2 tetapi sudah menentukan cita-cita. Tetapi sebelum kau menyelesaikan masalah orang lain, kurasa kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri, gadis kecil,” sahut Leeteuk.

“Masalah?” heran Hyun Ri.

“Kau sedang ada masalah,” jawab Leeteuk ringan. Ia mengelus sekilas rambut Hyun Ri dengan tangan kanannya dan berjalan ke arah deretan buku biologi.

“Bagaimana oppa tahu?”

“Aku cukup sering memperhatikanmu,” terang Leeteuk. “Sepertinya aku pinjam buku ini saja. Ja. Aku sudah selesai. Kau masih ingin di sini? Aku tak akan mengganggumu kalau begitu.”

“Bolehkah aku mengobrol denganmu?” Hyun Ri memberanikan diri diikuti anggukan Leeteuk. Kemudian mereka berjalan menuju ke salah satu bangku di perpustakaan. “Begitulah, oppa. Mungkin terlalu cepat aku menyukai seseorang. Maka dari itu aku juga heran bagaimana bisa aku langsung cemburu dengan kedekatan Yesung dan Soo Kyung. Padahal Soo Kyung kan sahabatku sendiri. Aku jahat, ya?”

“Jahat?” Leeteuk terbahak. “Kau dewasa, tetapi juga kekanakan. Lucu. Tentu saja kau tidak jahat. Cinta, yah, itu misteri. Begini saja. Kan kau baru menyukai Yesung kemarin. Bisa tidak kau coba untuk melupakannya sebelum terlanjur cinta?”

“Bagaimana caranya?”

“Kau sukailah namja yang lain,” sahut Leeteuk. “Ngomong-ngomong soal suka, apakah Rin temanmu tidak ada rencana putus dengan Eunhyuk?”

“Belum. Apa.. Oppa menyukainya?”

“Pikirkan saja sendiri. Katanya kau mau menjadi psikolog. Nah, sudah ya. Aku harus kembali ke kelas. Sebenarnya aku sedikit terburu-buru. Nanti kalau kau butuh bantuanku, ke perpustakaan saja. Aku akan selalu ada untukmu, dongsaeng.”

***

“Chagi, aku mendapat surat cinta.” Rin memberitahu Eunhyuk.

“Oya? Dari siapa?” tanya Eunhyuk sambil tetap memakan mie di hadapannya.

Rin merengut. “Mollayo. Tak ada pengirimnya. Isi suratnya romantis sekali! Kurasa dia mengenalku cukup baik. Kau tidak cemburu ya?”

“Tidak juga,” jawab Eunhyuk. “Assh! Mashita!”

“Lee Hyuk Jaeeeeee!” kata Rin sebal. “Apakah menurutmu mie lebih menarik daripada aku? Sungguh aku cemburu pada mie itu!”

“Chagi.” Eunhyuk tertawa. Digenggamnya tangan kekasihnya itu. “Untuk apa aku cemburu? Kalau ada orang lain yang menyukaimu ya sudah. Kau kan memang cantik. Yang penting aku tahu hatimu untukku and that’s it. Tidak ada gunanya bukan aku cemburu?”

“Isssh..” Wajah Rin merona.

“Ingat, Choi Rin Rin. I love you.” Meski hanya singkat, Eunhyuk mengecup kening Rin, singkat dan manis sekali. “Jadi sekarang aku ingin bertanya. Apakah kau meragukan cintaku?”

“Love you too, Eunhyuk.” Hanya itu yang dapat Rin berikan sebagai jawaban.

“Sudah, aku mau beli minum. Kau mau titip apa?”

“Tak usah. Aku tidak haus kok. Cepatlah, sebentar lagi masuk,” suruh Rin.

“Benar juga. Wah, pasti lama membuat milkshake coklat. Aku harus buru-buru.” Eunhyuk melihat jam tangannya.

Sedetik Rin mencerna ucapan Eunhyuk dan tersadar. “Kau kan tidak suka coklat.”

“Tapi Min suka. Aku mau beli untuk Min Young, sepertinya ia agak tidak enak badan kulihat. Aku pergi sebentar ya, Rin-ah!”

Setelah Eunhyuk pergi, Rin membaca lagi surat cinta yang baru didapatnya di loker sekolah. Rin akui dengan jujur. Ia suka dengan surat itu. Adegan film maupun pernyataan cinta Eunhyuk tak ada yang setara dengan ini. Penulis itu tidak menyertakan identitasnya. Hanya saja seluruh surat itu berwarna pink, sesuai warna kesukaan Rin. Karena itulah Rin semakin yakin pengirimnya benar-benar sangat mengerti dirinya.

“Ah, seandainya Eunhyuk seromantis Mr. Pink ini. Eunhyuk.. Hanya bisa romantis dengan Min..” sesal Rin sedih.

“Tidak benar, Rin-ah. Mereka kan sahabat. Kau selalu lupa itu.” Hyun Ri duduk di sebelah Rin.

“Hyun Ri. Kau mengagetkanku. Darimana kau? Soo Kyung mencarimu. Tadi ia heboh sekali. Soo Kyung diajak Yesung makan siang. Sayang kau tak ada. Kau jadi tak bisa melihat ekspresinya!” Rin tertawa.

Hyun Ri tersenyum sedih. “Oh iya. Kau tadi menyebut Mr. Pink, siapa itu Mr. Pink? Bukannya kalau Eunhyuk harusnya Mr. Blue?”

“Itulah, Kang Hyun Ri. Aku mendapat surat cinta. Tanpa pengirim. Dan…. Romantis.”

“Aha. Lalu kau kepikiran soal Eunhyuk yang katamu tak seromantis bila dengan Min setelah membaca surat itu?” tebak Hyun Ri.

“Bukan. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang menarik pada diri pengirim surat ini.”

-RCL-

Next chapter akan di post hari Sabtu, dan mianhae saya masih belum tau ini sampai berapa party karena ini sendiri belum selesai pembuatannya ^^ for tag, comment aja di bawah, nanti saya add dan tag kalian. Gomawo jeongmal J

Oh iya sekali lagi, komennya kalau bisa sesuai format di atas ya (namkor, bias, komen) . 3 komentar terbaik jadi next cast, kekeke xD

WE’RE BACK!!!

Featured

Anyeong 🙂 long time no post ya^^ maaf ya semua.. kesibukan lah yang menghalangi kami~

jngan marah+kecewa!

Karena bulan ini [re:MARET] kami kembali untuk posting FF yang kalian tunggu-tunggu!!

–>>>> FANFICTION AKAN DIBAGIKAN SETIAP HARI SENIN:)

 

AUTHORS-READERS RULES

Featured

 


Anyeonghaseyo! ini ada sedikit peraturan untuk para Authors dan Readers tentunya! ^_^

FOR AUTHORS : *must read*

1. Ketika Memposting Fanfict jangan lupa menambahkan Categories, and Tags

2. Tambahkan READ THE REST OF THIS ENTRY →  setelah tulisan dari Title/Cast.

dengan cara di bawah ini !

3. Tambahkan foto/poster untuk menarik perhatian readers untuk fanfict ^_^

4. Bantu Promote wordpress ini dan menghubungi Admins FFKU kalau ada yang ingin menjadi authors

Cukup sekian untuk AUTHORS!!! semoga ngerti ^_^

 

FOR READERS : *good readers wajib baca*

1.Selesai baca Wajib kasih saran dan kritik.

2.Jangan COPAST fanfict dari sini, kalau kalian lihat ada orang yang copy-paste dan mengganti nama AUTHOR TANPA CREDIT/VIA segera beritahu ! mohon bantuannya

3.NO BASHING!!

4.Bisa Request fanfict.

5.Bantu SHARE FFKU ke Facebook/Twitter/Tumblr/Heello/Plurk/dan acc lainnya.

 

Cukup sekian!! gamsahamnida~~~~~~~~~~~~~~~~~ 😀