[CHAPTER] The Way You Love Me – PART 1

Title : The Way You Love Me (1st chapter)

Author : #euntastic#

Genre : Romance, Friendship

Cast :

-Kim Jong Hyun SHINee as Jonghyun

-Kim Jong Woon SJ as Yesung

-Lee Hyuk Jae SJ as Eunhyuk

-Lee Seong Min SJ as Sungmin

-Park Jung Soo SJ as Leeteuk

-Shinta Marcelline as Park Min Young

-Novia Nurfitriana as Choi Rin Rin

-admin _SooKyung_ as Park Soo Kyung

-Genieverre Sasja as Choi Soo Yeon

-Kimiko Novi as Kang Hyun Ri

Other cast : SMFamily

Annyeong! FF ini didedikasikan untuk semua SMTown lovers. Kenapa SM? Karena memang fandom utama saya dari SMent. Memang di FF ini tidak semua dari SM dimuat, hanya Super Junior dan SHINee saja yang menjadi main cast, itu karena ini dibuat berdasarkan polling dan request. Lagipula kalau semua anggota SMent jadi cast, entahlah. Lebih dari 30 orang dong O.o

For reader, RCL please, 3 komen terbaik akan jadi cast di FF selanjutnya. Jadi kalau comment sekalian tulis namkor + bias + sifat kalian ya. Silent reader sebenarnya saya nggak mengharapkan tapi ya sudahlah, pokoknya didoakan yang RCL suatu saat bisa ketemu atau nonton konser biasnya (AMINNNNN!!!) Semoga suka, gomawo ^^

———–

Park Min Young dan Lee Hyuk Jae adalah sahabat sejak kecil, mereka berkenalan di TK dan sejak itu mereka menjadi dekat sampai sekarang. Beranjak SMA, Min memiliki 4 orang sahabat perempuan. Choi Rin Rin, salah satu murid terpopuler di sekolah, adalah pacar Lee Hyuk Jae. Mereka jadian di awal semester 2 kelas 2. Park Soo Kyung, anak yang jahil dan cukup populer di kalangan laki-laki. Ia mood maker di ‘geng’ mereka. Kang Hyun Ri, dikenal sebagai yang paling alim dan pendiam. Tetapi justru seorang ‘pawang’ dibutuhkan di gerombolan ‘hewan buas’ kan? XD Terakhir Choi Soo Yeon. Ia adalah salah seorang jagoan. Belum pernah pacaran karena mungkin pria tak berani padanya. Park Min Young sendiri sekarang berpacaran dengan kakak kelasnya bernama Lee Dong Hae. Donghae adalah teman satu klub dance Lee Hyuk Jae.

“Chagi-ah, aaaam!” Eunhyuk menyuapkan kimbab pada kekasihnya.

Choi Rin Rin atau yang biasa dipanggil Rin membuka mulutnya, menerima suapan dari Eunhyuk dengan bahagia. “Mashita!”

“Geez, belepotan tuh. Rin-ah, kau di depan namjachingu-mu kok masih jorok begitu!” kata Soo Yeon.

“Sudahlah, Soo Yeon. Biarkan saja. Sampai matipun kita tak bisa mengubah sifat joroknya.” Soo Kyung tertawa kecil diikuti yang lainnya.

“Aigoo, Donghae oppa ke mana ya?” ujar Min Young.

Hyun Ri melihat jam tangannya. “Sebentar lagi bel masuk. Masa iya dia belum keluar dari kelasnya. Apa kau harus selalu bertemu pacarmu? Nanti saja bertemunya pulang sekolah.”

“Eh? Bukan. Aku ingin meminjam kalkulator. Aku lupa bawa.”

“Yaaa, tadi kau menertawai aku jorok kau sendiri selalu pelupa begitu,” ejek Rin. “Tapi serius tidak bawa? Berani benar kau pada Victoria-ssi!”

“Tidak bawa kalkulator saja panik, payah kau! Pakai saja milikku.” sahut Soo Yeon. “Tapi, sepuluh ribu won dulu!”

“Dasar yeoja kasar, pelit. Pantas tidak ada yang naksir padamu.” Soo Kyung menyikut Soo Yeon pelan lalu segera meminta maaf.

“Kau mau pakai milikku, Min? Sudah kuduga kau pasti lupa, makanya aku bawa 2. Eotte?” tawar Eunhyuk.

Min mengangguk senang. “Gomawo, Hyuk!”

“Kajja, ke kelasku!” Eunhyuk menggandeng tangan Min tanpa berpamitan pada yang lain.

“Jangan dihiraukan. Mereka sahabat sejak kecil, Rin.” Hyun Ri menepuk pundak Rin yang terlihat kaget.

***

“Annyeonghaseyo!”

“Annyeong, Vic seongsaengnim!” sapa anak-anak di kelas 2-3.

“Hari ini kita kedatangan murid baru. Dia berasal dari Chunanh. Mari masuk!”

Seorang namja berjalan memasuki kelas, membawa sebuah ransel yang tak terlalu besar. Rambutnya sedikit berkibar tertiup kipas angin (bayangin adegan Bella-Edward yang rambutnya berkibar di Twilight..kekeke)

“HyunRi-ah! Omeo! Neomu challadayo!” Soo Kyung memegang pundak Hyun Ri yang duduk di hadapannya.

“Annyeong.” namja itu menyapa.

“Suaranya, aigoo..” Soo Kyung semakin terkagum.

“Ne, suaranya hangat sekali ya,” kata Hyun Ri menyetujui.

“Siap-siap, Soo Kyung-ah. Hanya bangku sebelahmu yang kosong,” goda Min sedikit berbisik.

Hyun Ri menelan ludah. Sepertinya benar namja itu akan duduk di sebelah Soo Kyung, batin Hyun Ri.

“Joneun Kim Jong Woon ibnida. Panggil saja aku Yesung. Oh iya, golongan darahku AB lho.” ia tersenyum.

“AB! Jangan-jangan dia jahil sepertimu, Soo Kyung!” tambah Soo Yeon.

“Soo Yeon, diam!” kata Mrs. Vic.

“Ahjumma cerewet.” Soo Yeon mencibir.

“Baiklah Yesung. Kau silakan duduk di.. Wah, bangku kosongnya hanya 1. Ya sudah kau duduk di situ saja. Soo Kyung, Soo Yeon, Rin, Min. Jangan kalian pengaruhi dia jadi ramai. Berhati-hatilah dengan gerombolan yeoja itu, Yesung.”

“Mwoya, sumpah! I hate that teacher!” sebal Soo Yeon.

Rin tersenyum geli. “Sejak kapan kau jadi bisa bahasa Inggris.”

“Annyeong. Yesung imnida,” kata Yesung begitu ia duduk di sebelah Soo Kyung. “Kau?”

“Err, naneun..”

“Tak usah malu-malu, SooKyung. Kalau naksir langsung bilang saja!” kata Soo Yeon.

“Diamlah, Soo Yeon!” Soo Kyung mencibir. “Mianhae, Yesung. Orang itu gila. Naneun Park Soo Kyung imnida. Aku juga dari Chunanh, tapi aku malah baru sekali ke sana.”

“Emang iya kau dari Chunanh? Atau kau hanya caper saja pada Yesung?” goda Min.

Yesung tertawa kecil. “Eh, ngomong-ngomong kau cantik, Soo Kyung.”

“M, mwo?”

“Jeongmal. Sejak pertama melihatmu.. Rasanya jantungku berdebar cepat sekali. Baru sekali ini aku mengalami cinta pada pandangan pertama. Aku bersyukur bisa duduk di sebelahmu. Kuharap kita bisa menjadi dekat ya, Soo Kyung-ah,” kata Yesung.

Sssssshhhhh…

Muka Soo Kyung semakin memerah. Memang ini bukan pertama kalinya ia dirayu oleh namja. Tetapi karena sifat jahil dan kocaknya, ia biasa menganggap segala hal sebagai candaan. Namun kali ini berbeda. Hanya dengan memandang matanya saja Soo Kyung sudah merasa ada sesuatu pada diri namja ini yang menarik hatin Soo Kyung.

“Aku bercanda kok.” Tiba-tiba Yesung tertawa.

“Ye-Sung-ya!!!” Soo Kyung menendang kaki Yesung kesal.

“Kau lucu kalau malu begitu, hahaha.”

“Menyebalkan!” kata Soo Kyung. “Eh, kyaaaa!! Tutup resleting celanamu! Kau mau pamer ya! Cepat tutup!”

Sontak Yesung yang panik segera berdiri dan memegang celananya, seisi kelas menoleh padanya.

“Yesung, ada apa?” tanya Mrs. Vic.

“A, ani, songsaenim. Mianhae,” jawab Yesung. Ia baru saja sadar bahwa dirinya dikerjai oleh Soo Kyung karena celananya tidak terbuka sedikitpun. “Yak!”

“Kau lucu kalau panik begitu, hahaha,” kata Soo Kyung santai.

“Aissh, jinjja kau ini. Tunggu saja ya. Aku sudah pasti akan membalasmu.”

Soo Kyung menjulurkan lidahnya. “Kau kira aku takut? Sudah lama aku mencari rival sepertimu, Jong Woon-ah. Aku ini Ratu Jahil kelas 3-3,” pamer Soo Kyung.

“Ratu? Kau butuh pendamping tidak? Aku ingin jadi pendampingmu,” ucap Yesung.

“Pendamping apa?”

“Pendampingmu.” Yesung mendekatkan wajahnya pada Soo Kyung hingga kembali wajah Soo Kyung bersemu. Lalu tangan Yesung mendekati tangan Soo Kyung dan…. “Aku pinjam bolpoin ya.”

“Neo!” protes Soo Kyung.

“Hahahahahahaha, jadi aku sekarang akan mendampingimu menjadi Raja Jahil 3-3 ya,” tawa Yesung.

Sambil tertawa kecil, Soo Kyung memandang penuh remeh. “Mimpi dulu kalau mau mengalahkanku!”

“Baru saja dibilang hati-hati ternyata kau sudah ketularan, Kim Jong Woon,” sindir Mrs. Vic.

“Eh? Mianhae, songsaengnim. Selanjutnya saya akan mendengarkan perkataan anda dengan seksama. Saya yakin penjelasan anda mudah dimengerti karena itu saya tadi sedikit melenceng. Memang saya yang salah. Jeosonghamnida.” Yesung meminta maaf.

Mrs. Vic mengangguk. “Gwenchana. Mari lanjutkan pelajaran.”

“Hebat sekali kau bisa menaklukkannya!” puji Soo Kyung.

“Tentu saja. Kau ini. Aku itu kan namja yang terlahir dengan suara menghipnotis dan wajah tampan. Jelas saja semua wanita takluk,” jawab Yesung ngasal.

“Tapi sayang kepalamu besar.” Soo Kyung tertawa.

“Biar saja. Tapi kau suka kan?” goda Yesung.

Jadi mereka sudah dekat, pikir Hyun Ri saat ia menoleh ke belakang.

***

Pulang sekolah..

“Hari ini mau ke mana kita?” tanya Hyun Ri.

“Ke rumah Min yuk, kita nonton DVD konser SMTown New York,” ajak Soo Kyung. “Kau kemarin download kan, Min?”

Min mengangguk. “Boleh. Donghae oppa, kau ikut ke rumahku kan?”

“Aigo. Mianhae, Min-ah. Mendadak sekali. Aku ada latihan dance. Kau tidak latihan, Eunhyuk? Minggu depan kan kita mengisi acara di Inha University,” sahut Donghae.

“Anio, hyung. Pundakku masih sakit,” jawab Eunhyuk.

“Ah kau sih tidak latihan juga sudah jago, chagi!” Rin mencubit kedua pipi Eunhyuk.

“Ya sudah, aku permisi dulu, ya. Mianhae tidak bisa ikut. Bersenang-senanglah yeorobeun. Kau terutama, yeobo.” Donghae mengacak-acak rambut Min.

Mereka berenam minus Donghae lalu berjalan ke arah halaman parkir sekolah.

“Heh!! Tabrak-tabrak sembarangan!!” tiba-tiba Soo Yeon berteriak.

Seorang namja menabraknya, tidak sengaja mungkin. Tetapi yah kita semua tahu Soo Yeon.

“Mi, mianhae..” kata namja itu.

“Aigo! Aku tak mau ikut-ikut, Jjong! Dia yeoja buas.” Seorang yeoja yang tadi berjalan dengan namja itu segera berlari menghindar.

“Cih, temanmu pengecut. Dam kau. Beraninya sama perempuan! Maju sini!” bentak Soo Yeon.

“Sudahlah, Soo Yeon-ah, dia sudah minta maaf,” cegah Hyun Ri.

“Ah, dia kan Kim Jong Hyun. Teman sekelasmu bukan, Eunhyukkie?” kata Min.

“Dia anak terkuper di kelas, Min-ah,” jawab Eunhyuk.

“Mian. Aku sungguh tidak sengaja..” Jonghyun menunduk, pura-pura tidak mendengar perkataan Eunhyuk barusan.

Soo Kyung berusaha menengahi. “Soo Yeon-ah, biarkan saja. Kata Eunhyuk dia culun kan? Ya sudah. Rugi kau berurusan dengan anak seperti itu. Iya kalau Senior Siwon yang setampan dewa tidak masalah.”

“Justru karena dia culun! Dikira aku mau mengalah pada anak culun?” Soo Yeon maju selangkah.

“Cukup, Yeon-ah. Ayo kita pergi!” Rin menarik tangan Soo Yeon ke parkiran.

***

“Omo! Aku lupa Min Hyuk tidak bawa kunci rumah. Aku harus segera pulang!” kata Min setelah membaca SMS dari adiknya, Park Min Hyuk. “Soo Yeon-ah, kau bisa ngebut kan? Kalau begitu aku bareng denganmu saja bisa?”

Soo Yeon mengangguk. “Kajja! Ya sudah, yang lain, kita bertemu di rumah Min ya. Oh… Min! Bensinku habis!”

“Eh? Jinjjayo?” Min terlihat panik.

“Ya sudah kau denganku saja, Min-ah. Gwenchana, chagi?” sahut Eunhyuk.

“Ne. Lagipula rumahku dekat dengan Hyun Ri. Biar nanti aku sekalian pulang dengan Hyun Ri saja,” jawab Rin.

“Baiklah. Annyeonghi, chagi, yeorobeun,” pamit Eunhyuk diikuti Min yang melambai.

Motor biru Eunhyuk disetater. Min segera naik ke boncengan dan seperti sudah kebiasaan, tangan Eunhyuk menarik tangan Min untuk memeluk pinggangnya.

“Eh, chingudeul. Appa SMS nih katanya ia menjemputku. Eottokhae? Kalian ke sana saja aku tidak ikut ya?” kata Soo Kyung.

“Eh? Kalau begitu tidak usah saja sekalian. Tidak seru kalau tak ada kau,” kata Soo Yeon. “Baiklah kita langsung pulang saja. Rin-ah, kau pulang dengan Hyun Ri, ya?”

“Mianhae ya. Aku pamit dulu. Annyeong.” Soo Kyung tersenyum.

Semuanya sudah pergi, meninggalkan Soo Yeon yang sendirian di tempat parkir. Tampaknya sekolah sudah cukup sepi.

“Ahhhhh, namja tadi cakep sekali sih. Kenapa aku marah pada namja setampan itu!” Soo Yeon membanting tasnya ke tanah, tidak jadi mengendarai motornya.

“Soo Yeon-ssi?” sapa seseorang.

Sesuai dugaan. Benar sekali, yang menyapa Soo Yeon adalahh..

“Kim Jong Hyun?” kaget Soo Yeon. “Mau apa kau?!”

“Anio. Aku hanya ingin membantumu. Maaf tadi aku sedikit mencuri dengar pembicaraan. Motormu kehabisan bensin ya?” tanya Jonghyun.

“Kurang ajar! Lancang sekali kau mencuri dengar pembi..” tiba-tiba Soo Yeon terdiam. Merasakan sesuatu yang sebelumnya jarang dirasakannya. Debaran jantungnya semakin kencang. Hatinya mendadak gelisah entah mengapa.

“Kalau kau tak keberatan, kita dorong motormu ke pom bensin terdekat. Dibilang dekat tidak juga sih. Mungkin sekitar 1 km. Kau kuat tidak? Kalau tidak kau tunggu di sini saja biar kubelikan bensin,” kata Jonghyun ramah.

“Yaa! Tentu saja aku kuat! Jangan meremehkan seorang Choi Soo Yeon, ya!”

Jonghyun tertawa. Tak diduga suaranya merdu juga. “Ne, arasseo. Mianhae, Soo Yeon-ssi.”

“Jangan panggil aku Soo Yeon-ssi. Sopan sekali sih.” Soo Yeon bergidik. Jonghyun mengambil alih motornya dan mereka berjalan bersama menuntun motor Soo Yeon. “Pantas saja kau dibilang kuper. Gayamu culun sekali. Bicara terlalu sopan. Pakai kacamata segala. Aigo.”

“Salah kah?” tanya Jonghyun dengan senyum.

Sekali lagi debaran jantung Soo Yeon semakin cepat.

“Temanmu, Kang Hyun Ri, bukankah dia juga sepertiku? Tetapi kau berteman dekat dengannya,” lanjut Jonghyun.

“Kau mengenal Hyun Ri?”

“Tidak juga. Aku hanya mengaguminya dari jauh saja, sama seperti kau mengagumi Minho dan Yunho sunbae.”

“Kau..”

“Aku cukup sering memperhatikan kalian. Kalian yeoja yang menarik.” Jonghyun membuat pipi Soo Yeon memanas. “Min yang baik hati dan sedikit kekanakan. Rin memang terkesan cuek, tapi aku tahu dia sangat perhatian. Soo Kyung paling feminin di antara kalian, supel. Hyun Ri yang rendah hati dan pendiam. Dan Soo Yeon si jagoan sekolah, diam-diam sering memperhatikan Minho dan Yunho hyung di kelas menari.”

Mau tak mau Soo Yeon cukup terpana dengan analisis Jonghyun yang tidak meleset. Bahkan Soo Yeon tak mengira Jonghyun tahu ia ngefans dengan 2 namja itu. “Tapi kau bilang tadi, kau mengagumi Hyun Ri?”

“Ne,” jawab Jonghyun. “Maukah kau membantuku?”

“Membantumu mendapatkan Hyun Ri? Anio! Ani! Kalau bantuanmu mendorong motor ini hanya untuk itu kau pergi saja! Aku tak butuh bantuanmu!” Tak disangka Soo Yeon langsung terbakar cemburu. “Tak usah menjawab apa-apa, pergilah kau!!!!”

***

Sudah setengah jam Min dan Eunhyuk menunggu di depan rumah. Sampai akhirnya Eunhyuk memutuskan untuk menelepon Rin.

“Mereka tidak jadi datang, Min-ah,” kata Eunhyuk.

“Eh? Kok tiba-tiba sekali. Ya sudahlah. Kau mau pulang saja, Hyukkie? Atau bagaimana?” tanya Min Young.

“Main saja yuk. Sejak kelas 2 aku sudah jarang main denganmu dan Minhyuk. Main.. Kartu saja. Seperti dulu kan kita suka bermain kartu dan monopoli bertiga. Boleh, Minnie?” tanya Eunhyuk balik.

Min memukul pelan lengan Eunhyuk. “Jangan mulai memanggil begitu deh. Itu kan nama kecilku. Sekarang kita sudah SMA.”

“Kan lucu, sesuai tampangmu yang imut-imut.” Eunhyuk tertawa.

“Apa deh imut-imut. Kalau mau menyindir langsung saja bilang amit-amit. Dasar Myeolchi!” jawab Min. Ia menjulurkan lidahnya.

“ah, tidak, kau imut kok. Kalau kau amit-amit Donghae hyung mana mungkin mau denganmu!” tawa Eunhyuk.

“Kyaaak, aku jadi terpesona,” ujar Min dengan tawa.

Sambil tersenyum geli melihat sahabatnya ini, Eunhyuk tiba-tiba menepuk dahinya. “Min. Aku lupa. Kalkulatorku mana? Itu kalkulator noona Sora.”

“Wah, milik Sora onnie? Hahaha. Bisa-bisanya kau mengambilnya. Sebentar.” Min membuka tas ranselnya, mencari kalkulator berwarna biru di tumpukan buku. “Ja. Ini dia. Gomawo! Aku tak tahu apa jadinya aku kalau tadi kau tak meminjamiku.”

“Tak masalah. Sahabat saling membantu bukan?” tanggap Eunhyuk.

“Yeongwonhi!” jawab Min diiringi senyuman. “Jadi kau mau main? Aku lihat dulu deh Minhyuk tidur atau tidak.”

“Gidarida, Min-ah.”

Lagi-lagi Min tertawa. “Seperti syair lagu Bonamana saja. Changkanman.” Ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah. Sial, tali sepatunya lepas sehingga tak sengaja Min menginjak tali sepatunya sendiri..

“Min-ah!” seru Eunhyuk yang segera menopang tubuh Min.

“Aigo. Aku ceroboh. Maafkan aku, Eunhyuk.”

“Dasar kau. Sejak kecil selalu saja merepotkanku. Hati-hatilah sedikit jadi orang, aku kan tidak bisa harus selalu menjagamu.”

“Kan aku sudah minta maaf. Jadi bisa lepaskan aku?” tanya Min mengingat dirinya masih berada di dekapan Eunhyuk.

“Tentu. Tentu. Errr, maaf aku keasikan.”

“Yaa, dasar kau otak yadong! Kasihan Rin harus pacaran dengan namja mesum sepertimu,” canda Min.

“Kasihan Donghae hyung harus pacaran dengan yeoja cantik sepertimu!” balas Eunhyuk.

“Iisssh, tidak lucu,” ucap Min. Tetapi tetap saja toh ia tertawa juga.

***

Esok harinya di sekolah, jam istirahat. Tidak seperti biasanya Hyun Ri memilih untuk menghabiskan waktu di perpustakaan. Memang sih ia hobi membaca. Tetapi biasanya ia ada bersama teman-temannya di kantin.

“Mmmm.. Psikologi.. Psikologi..” Hyun Ri mencari-cari rak buku psikologi.

“Buku psikologi ada di belakang, keempat dari kanan,” kata seseorang.

“Ah. Gomawo!” jawab Hyun Ri dengan disertai bungkukan.

Namja itu tersenyum lembut. “Cheonmaneyo. Ya sudah aku tinggal dulu, ya.”

“Apakah, apakah kau Park Jung Soo oppa?” tanya Hyun Ri.

“Benar. Tetapi cukup panggil aku Leeteuk saja. Kau Kang Hyun Ri bukan?” tanya Leeteuk balik. “Tumben sekali kau ke perpustakaan. Padahal biasanya kau pasti ada di kantin dengan teman-temanmu itu. Ada tugas?”

Hyun Ri menggeleng. “Aku memang suka membaca. Oppa sendiri? Apakah mempersiapkan ujian sekolah?”

“Hahahaha. Bagaimana kau tahu. Malu mengakuinya, tetapi benar.”

“Malu? Malu kenapa oppa?” kata Hyun Ri, matanya membulat.

“Kau tak menertawaiku? Aku tak pernah bercerita pada orang-orang karena kurasa hal itu memalukan. Ujian sekolah masih 6 bulan lagi tetapi aku sudah mempersiapkannya. Aku ingin menjadi dokter.” Leeteuk tertawa kecil.

“Jinjja? Wah, cita-cita yang mulia sekali. Tetapi tidak heran. Oppa kan ranking satu di angkatan oppa bukan?”

“Ternyata kau mengenalku, Hyun Ri-ah. Kau sendiri untuk apa mencari buku psikologi?”

Kali ini Hyun Ri yang tertawa kecil. “Aku ingin menjadi seorang psikolog.”

“Keren. Kau masih kelas 2 tetapi sudah menentukan cita-cita. Tetapi sebelum kau menyelesaikan masalah orang lain, kurasa kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri, gadis kecil,” sahut Leeteuk.

“Masalah?” heran Hyun Ri.

“Kau sedang ada masalah,” jawab Leeteuk ringan. Ia mengelus sekilas rambut Hyun Ri dengan tangan kanannya dan berjalan ke arah deretan buku biologi.

“Bagaimana oppa tahu?”

“Aku cukup sering memperhatikanmu,” terang Leeteuk. “Sepertinya aku pinjam buku ini saja. Ja. Aku sudah selesai. Kau masih ingin di sini? Aku tak akan mengganggumu kalau begitu.”

“Bolehkah aku mengobrol denganmu?” Hyun Ri memberanikan diri diikuti anggukan Leeteuk. Kemudian mereka berjalan menuju ke salah satu bangku di perpustakaan. “Begitulah, oppa. Mungkin terlalu cepat aku menyukai seseorang. Maka dari itu aku juga heran bagaimana bisa aku langsung cemburu dengan kedekatan Yesung dan Soo Kyung. Padahal Soo Kyung kan sahabatku sendiri. Aku jahat, ya?”

“Jahat?” Leeteuk terbahak. “Kau dewasa, tetapi juga kekanakan. Lucu. Tentu saja kau tidak jahat. Cinta, yah, itu misteri. Begini saja. Kan kau baru menyukai Yesung kemarin. Bisa tidak kau coba untuk melupakannya sebelum terlanjur cinta?”

“Bagaimana caranya?”

“Kau sukailah namja yang lain,” sahut Leeteuk. “Ngomong-ngomong soal suka, apakah Rin temanmu tidak ada rencana putus dengan Eunhyuk?”

“Belum. Apa.. Oppa menyukainya?”

“Pikirkan saja sendiri. Katanya kau mau menjadi psikolog. Nah, sudah ya. Aku harus kembali ke kelas. Sebenarnya aku sedikit terburu-buru. Nanti kalau kau butuh bantuanku, ke perpustakaan saja. Aku akan selalu ada untukmu, dongsaeng.”

***

“Chagi, aku mendapat surat cinta.” Rin memberitahu Eunhyuk.

“Oya? Dari siapa?” tanya Eunhyuk sambil tetap memakan mie di hadapannya.

Rin merengut. “Mollayo. Tak ada pengirimnya. Isi suratnya romantis sekali! Kurasa dia mengenalku cukup baik. Kau tidak cemburu ya?”

“Tidak juga,” jawab Eunhyuk. “Assh! Mashita!”

“Lee Hyuk Jaeeeeee!” kata Rin sebal. “Apakah menurutmu mie lebih menarik daripada aku? Sungguh aku cemburu pada mie itu!”

“Chagi.” Eunhyuk tertawa. Digenggamnya tangan kekasihnya itu. “Untuk apa aku cemburu? Kalau ada orang lain yang menyukaimu ya sudah. Kau kan memang cantik. Yang penting aku tahu hatimu untukku and that’s it. Tidak ada gunanya bukan aku cemburu?”

“Isssh..” Wajah Rin merona.

“Ingat, Choi Rin Rin. I love you.” Meski hanya singkat, Eunhyuk mengecup kening Rin, singkat dan manis sekali. “Jadi sekarang aku ingin bertanya. Apakah kau meragukan cintaku?”

“Love you too, Eunhyuk.” Hanya itu yang dapat Rin berikan sebagai jawaban.

“Sudah, aku mau beli minum. Kau mau titip apa?”

“Tak usah. Aku tidak haus kok. Cepatlah, sebentar lagi masuk,” suruh Rin.

“Benar juga. Wah, pasti lama membuat milkshake coklat. Aku harus buru-buru.” Eunhyuk melihat jam tangannya.

Sedetik Rin mencerna ucapan Eunhyuk dan tersadar. “Kau kan tidak suka coklat.”

“Tapi Min suka. Aku mau beli untuk Min Young, sepertinya ia agak tidak enak badan kulihat. Aku pergi sebentar ya, Rin-ah!”

Setelah Eunhyuk pergi, Rin membaca lagi surat cinta yang baru didapatnya di loker sekolah. Rin akui dengan jujur. Ia suka dengan surat itu. Adegan film maupun pernyataan cinta Eunhyuk tak ada yang setara dengan ini. Penulis itu tidak menyertakan identitasnya. Hanya saja seluruh surat itu berwarna pink, sesuai warna kesukaan Rin. Karena itulah Rin semakin yakin pengirimnya benar-benar sangat mengerti dirinya.

“Ah, seandainya Eunhyuk seromantis Mr. Pink ini. Eunhyuk.. Hanya bisa romantis dengan Min..” sesal Rin sedih.

“Tidak benar, Rin-ah. Mereka kan sahabat. Kau selalu lupa itu.” Hyun Ri duduk di sebelah Rin.

“Hyun Ri. Kau mengagetkanku. Darimana kau? Soo Kyung mencarimu. Tadi ia heboh sekali. Soo Kyung diajak Yesung makan siang. Sayang kau tak ada. Kau jadi tak bisa melihat ekspresinya!” Rin tertawa.

Hyun Ri tersenyum sedih. “Oh iya. Kau tadi menyebut Mr. Pink, siapa itu Mr. Pink? Bukannya kalau Eunhyuk harusnya Mr. Blue?”

“Itulah, Kang Hyun Ri. Aku mendapat surat cinta. Tanpa pengirim. Dan…. Romantis.”

“Aha. Lalu kau kepikiran soal Eunhyuk yang katamu tak seromantis bila dengan Min setelah membaca surat itu?” tebak Hyun Ri.

“Bukan. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang menarik pada diri pengirim surat ini.”

-RCL-

Next chapter akan di post hari Sabtu, dan mianhae saya masih belum tau ini sampai berapa party karena ini sendiri belum selesai pembuatannya ^^ for tag, comment aja di bawah, nanti saya add dan tag kalian. Gomawo jeongmal J

Oh iya sekali lagi, komennya kalau bisa sesuai format di atas ya (namkor, bias, komen) . 3 komentar terbaik jadi next cast, kekeke xD

[CHAPTER 1/2] Love Stiff

 

Title : Love Stiff

Author : Tria DeAngelo

Cast: Lee Taemin

Jung Ji Hoon

Dakota Fanning as Cassandra Alexander

Genre : romance, friendship , family

Rating : PG-15

Length: sequel

Disclaimer : coba-coba buat FF yang tokoh perempuannya barat. Semoga tidak mengecewakan.Kalau mengecewakan ya dimaklumin,namanya juga coba-coba, hehe. Mohon segala kritik, saran, advice, de el el. Karena itu akan menjadi intropeksi bagi diri saiiia. Matur nuwun *bow 90 derajat. 😀

Matahari perlahan lengser ke barat, mengantar burung camar kembali ke haribaan. Berbeda 180 derajat dengan gadis berambut pirang gelap bergelombang tersebut. Ia baru saja menginjakkan kaki di Negeri Gingseng tepatnya di Bandara Incheon Korea Selatan. Hawa asing negeri orang cukup membuatnya tidak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak punya pilihan. Jika perusahaan ayahnya tidak bangkrut. Jika ayahnya tidak perlu menggadai rumah mereka. Jika kecelakan kereta bawah tanah itu tidak terjadi. Jika ia tidak menemukan sang bunda gantung diri karena frustasi. Mungkin mereka bertiga sekarang berada di Hawai, menyapa tiap orang yang ditemui dengan aloha. Menghabiskan waktu berjemur di bawah terik matahari yang hangat. Nyatanya, itu tak lebih dari omong kosong. Sudah jatuh, terpeleset tertimpa tangga pula.

”Cassandra!!!”

Lamunannya pecah seketika berganti keterkejutan mendengar namanya disebut. Seorang bapak-bapak menggerak-gerakkan kertas putih bertuliskan ”CASSANDRA” dan ibu-ibu di dekatnya melambai-lambaikan tangan.

”Uncle Kim, Aunt Jun Ah. Nice to see you again,” Cass memeluk kedua orang tersebut bergantian.

”Ahh,.Cassandra kecil sudah besar rupanya. Cantik pula,” Aunt Jun Ah membelai Cassandra lembut.

”Sudah, lepas rindunya dilanjutnya di rumah. Sudah sore. Kajja!” ajak Uncle Kim.

Sepanjang perjalanan Cass, begitu nama gadis itu biasa disapa mengamati pemandangan sekeliling. Kota Seoul dipenuhi orang-orang berlalu-lalang dengan urusan masing-masing. Tidak berbeda jauh dengan tempat tinggalnya dulu di New York.Keduanya sama-sama memegang gelar yang sama sebagai kota yang tak pernah tidur. Hanya saja, di sini mayoritas penduduknya bermata sipit dibalut kulit seputih susu.

”Sudah sampai!” Uncle Kim berseru riang, dibawanya koper bersama ransel ke dalam rumah.

”Uncle, aku bisa membawanya sendiri,” Cassa berusaha mencegah namun lelaki paruh baya itu menolaknya.

”Gwencana, kau pasti lelah. Masuk, makan dan beristirahatlah. Paman akan membawa barang-barangmu ini ke kamar.”

”Tapi..,”

”Ayolah Cass, pamanmu benar,” Aunt Jun Ah menggandeng Cass masuk.

Ada hal yang berbeda ketika Cass memasuki rumah minimalis bercat biru laut tersebut. Terasa nyaman seperti rumah sendiri. Koleksi porselen Cina tertata rapi, lukisan-lukisan khas Korea terpajang sinkron dan foto-foto berbingkai di tata apik di tempatnya, benar-benar sedap dipandang mata. Salah satu foto menarik perhatian, terpampang jelas mendiang orang tuanya bersama Uncle Kim, Aunt Jun Ah juga dirinya di State Line Lookout lima tahun silam. Pandangannya mulai mengabur.

”Mereka benar-benar sahabat terbaik,” seolah mengerti tatapan si gadis, “Banyak hal yang tidak bisa dimengerti di dunia ini Nak. Sering kali itu perasaan berkata tidak adil, serasa dunia begitu kejam. Kita hanya bisa berharap namun Tuhan yang menentukan. Satu hal yang pasti, Dia akan memberikan yang terbaik. Percayalah, ” Aunt Jun Ah menepuk pundaknya pelan.

” Ya,.I agree with it. Aku ingin langsung istirahat. Pengaruh jet lag.”

”Yakin tidak mau makan?”

”I was.”

”Ne, take a rest. Kamarmu ada di lantai dua. Namamu sudah tertera di pintunya.”

”Thanks,” Cass tersenyum sekilas sebelum melesat menaiki tangga.

Hidup memang bagaikan roda yang berputar, segala hal mengalami perubahan baik lambat maupun cepat. Tak ada yang tahu pasti, bahkan peramal handal pun bisa saja meleset dalam prakiraan. Hal itulah yang kini dialami Cassandra, awalnya hidup berjalan seperti melewati jalan tol semua berjalan baik-baik saja sampai suatu petaka menyambar tak ubahnya angin puting beliung. Ia kehilangan semuanya, harta yang tersisa pun hanya sedikit tabungan dan apa-apa yang ia bawa. Masih beruntung Uncle dan Aunt Kim mau mengasuhnya, disamping rasa solidaritas persahabatan erat antara keempatnya, toh pasangan suami-istri Kim belum jua dikaruniai momongan.

”Cass, hari ini akan menjadi hari penting. Ahh, kau cantik sekali dengan seragam itu,” Aunt Jun Ah mengamati Cassandra dari ujung kepala hingga mata kaki.

”Astaga Bi, seragam ini membuatku sumpek,” Cass mengendorkan dasinya, jika boleh jujur dia lebih memilih memakai kaos oblong dibalut jeans belel daripada balutan kemeja, rompi, dasi dan jas yang kini melekat di tubuh proposionalnya

”Nantinya juga akan terbiasa, kau sudah tahu rute perjalan ke sekolah kan? Paman harus segera ke kantor dan bibimu akan mengurusi kedai. Jadi, kami tidak bisa mengantarmu.”

”Take it easy, I know. Gamsahamnida Paman dan Bibi sudah mau menerimaku. Maaf jika merepotkan,” rasa bersalah menghinggapi, ya bagaimana tidak? Mereka tak ada hubungan darah namun mau menerimanya seperti keluarga sendiri.

”Bibimu ini harus bilang berapa kali, kau sama sekali tidak merepotkan. Justru membuat rumah ini menjadi berwarna,” Aunt Jun Ah mengelus pundak Cass lembut.

Sesampainya di sekolah Cass dilanda rasa was-was. Andai ini New York mungkin ia tak akan segugup ini. Sayangnya, ia beada disini tanpa teman apalagi kenalan. Sempat menyesal tidak memilik teman warga Korea Selatan di account Facebook dan twitter. Menyesal tiada guna, beradaptasilah, hanya ada itu di kepala. Tatapan dari tiap murid yang berpapasan membuat langkah kakinya berat. Beberapa gadis tampak asik berbisik saat melihatnya. Oh God, I want it end, batin Cass.

The Tired Day, Cass benci ini. Apabila ada koran harian sekolah, pastilah tajuk utama akan berjudul ”HEBOH : Anak Pindahan New York”. Seharian penuh ia diberondong pertanyaan dari murid-murid di sekelilingnya, belum pelajaran yang membuatnya mupeng karena penguasaan bahasa Koreanya yang masih minim. Faedahnya bahwa ia memiliki teman sebangku yang bisa diandalkan. Lumayan membuat lega.

”Kang Eun Ri,” jawab gadis berambut sebahu itu ketika ditanya namanya.

Berita kehadiran Anak Pindahan dari New York sampai ditelinga lima orang namja berpredikat populer di sekolah.

”Kau sudah tahu kedatangan gadis New York itu kan?” tanya namja bermata sipit.

”Tentu saja, ini ada yang mengirimiku fotonya,” si namja bermata belo menunjukkan ponseknya.

”Sini aku mau lihat,” namja dengan postur tubuh terpendek tapi juga paling berotot merebut ponsel dari si pemilik, “Whoa, neomu yeppeo.”

”Bukannya itu orangnya,” namja bergelang pink menunjuk ke arah yeoja yang tengah sibuk pada ponselnya.

Taemin pun tertarik dan mengarahkan pandangan ke objek pembicaraan chingudeulnya sekarang. Tercengang, dari jarak jauh terlihat jelas bahwa gadis berkulit khas Kaukasoid tersebut terlihat “ngejreng” diantara murid lainnya. Di samping faktor dia berbeda ras dengan mayoritas murid berdarah Asian Mongoloid juga cara berseragam terlihat sedikit berani, dasi kendor, rambut dibiarkan berantakan, kemeja tak berkancing, kaos kaki garis dan sepatu kets warna mencolok. Bukan hanya itu, ekspresinya yang tampak cuek dan apatis membuat gairah Taemin bangkit, ingin mengenal lebih dalam.

”Siapa namanya?”

”Cass, Cassandra Alexander. Why? Kau tertarik?” tanya Jonghyun menyelidik.

Taemin tersenyum,”Yeoja yang menarik.”

”Lalu mau dikemanakan selir-selirmu itu? Mereka pasti akan sakit hati,” Key melambai pada yeoja-yeoja centil yang sedang bergosip ria.

”Cih, yang benar saja. Mereka seperti hantu,” jawab Taemin tak suka.

“ya Taemin, mereka tergila-gila pada pesona imutmu itu tahu!,” Minho angkat bicara.

”Enak saja kau bicara, aku ini manly!” Taemin menepuk dadanya. Tak habis pikir bagaimana temannya itu bisa menempelkan image imut pada dirinya. Padahal ia sudah mati-matian tampil manly membentuk otot dengan fitnes, assesoris berbau rantai sampai pakaian warna gelap dipadu jeans sobek di bagian paha sebagai pakaian sehari-hari.

‘’Anio, Taeminku tetap imut. Lucu-lucu,” Onew mencolek pipi Taemin gemas, membuat si empunya masam. Ia tidak marah dibilang imut, hanya saja mengingat usianya sudah 17 tahun, image itu sama sekali tidak cocok.

Sebelum mood-nya jelek Taemin memilih untuk pergi.

”Poor Cassandra! Dasar bodoh,” Cass memukul kepalanya pelan. Ia benar-benar ceroboh menaiki bus yang salah sehingga sekarang ia terdampar di trotoar, sendirian persis seperti orang linglung. Belum lagi ponselnya kehabisan batere gara-gara terlalu lama digunakan untuk ng-game. Melihat langit sudah mulai berwarna jingga membuat Cass menerawang paman dan bibi pasti khawatir sekarang. Setelah itu kembali menyalahkan diri sendiri. Cass duduk di bawah lampu jalanan, tidak ada satu pun bus melintas dan itu membuatnya semakin gelisah.

Brrmm!

Sebuah motor sport berhenti tepat di depannya. Sang reader membuka helm, memperlihatkan sosok rupawannya.

”Perlu bantuan?”

Cass hanya bengong lebih tepatnya bingung harus menjawab apa.

”Sepertinya kau tersesat?” namja tersebut kembali bertanya.

”Ne, bisa beritahu aku jalan menuju perumahan Daesuke?”

”Aku bisa mengantarmu kesana.”

Cass terdiam, lalu memperhatikan sosok di hadapannya. Seorang anak laki-laki berambut coklat gelap membingkai wajahnya yang bisa dibilang kekanakan namun juga menawan. Cass, what do you think! Ia orang asing, bisa jadi sebenarnya seorang penculik atau bahkan psikopat seperti Jack The Ripper.

”Aku tidak seburuk itu,” seolah mengerti apa yang dipikirkan gadis itu,”Kita satu sekolah, aku Taemin, Lee Taemin.”

”Cass, Cassandra Alexander,” ia menyamut uluran tangan Taemin seketika merasakan kehangatan menjulur ke sekujur tubuhnya.

”Jadi, mau kuantar?”

Cass tampak ragu-ragu.

”Tawaranku berlaku satu kali, atau kau tak bisa pul..”

”Oke, I want.”

Taemin tersenyum simpul, mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Sesekali melirik ke arah spion untuk melihat gadis di belakangnya. Bukan pertama kali bagi Taemin berinteraksi dengan gadis barat. Akan tetapi Taemin merasa Cass berbeda. Meskipun ia belum tahu pasti itu apa. Is it love? Pertanyaan konyol. Bagaimana bisa jatuh cinta terhadap seseorang yang baru dikenal beberapa menit yang lalu.

Hari sudah malam ketika keduanya sampai di rumah. Cass membungkuk pelan, mempraktekan salah satu adat budaya orang Korea.

”Terima kasih.”

”Sama-sama, masuklah orang tuamu sudah menunggu,” ucapan Taemin sempat membuat Cass terhenyak. Ia menyunggingkan senyum menahan rasa getir yang masih bergejolak di hatinya. Sepertinya Taemin melihat gelagat aneh, belum sempat bertanya gadis bermata biru itu sudah berbalik.

Cass berlari memasuki rumah,tergesa membuka pintu. Sampai tidak memperharikan dari kaca jendela besar seseorang juga melakukan halyang sama.

Bukkk!

“Aww!” erang Cass,pantatnya dengan sukses menghantam lantai. Sebuah tangan terayun,ia menyambut kemudian berdiri sempoyongan. Sejenak mengatur nafas lalu mendongak melihat sosok asing dihadapannya.

To be continued……….

[ONESHOOT] Its just my dream

tittle : it’s just my dream (oneshot )

author : SpicaStar

cast : kang hye sun, onew, jung rae rim, park seung rin

genre : romance, sad

summary : tertidur, bermimpi, adalah hal yang wajar. terkadang kita tidak ingin bangun dari tidur saat memimpikan oang yang kita sayangi. tapi bagimana jika seseorang itu pergi didalam mimpi kita ? dan kita tidak akan bisa bangun dari tidur. kesal ? sedih ? ingin mengangis ? dan bahkan menyalahkan takdir ? baiklah.. apapun itu semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi pada semua orang yang kita sayangi.

Continue reading